IT. Sebuah Nostalgia Oldschool Horror.

Beberapa waktu lalu, teman kantor saya memutar trailer film horror “IT”. Saat itu, teman kantor saya yang lain, yang sudah berusia 35 tahun ke atas, lewat dan nyeletuk, “Eh ini kan film badut jaman dulu gue kecil, hii, takut banget gue dulu ama ini!!”

Saya termasuk generasi 90an yang tidak turut merasakan sensasi horror si Badut dari Neraka “Pennywise” yang menjadi ikon dalam film “IT”. Tapi dari kecil, saya selalu menyimpan pikiran yang janggal mengenai Badut. Bagaimana bisa sosok se-creepy itu menjadi ikon untuk menghibur anak-anak di pesta ulang tahun dan pesta-pesta menyenangkan lainnya? Sampai sekarang pun saya tak suka badut. Tapi untungnya tak sampai menderita Coulrophobia–phobia pada Badut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Hal-hal Yang Terjadi di Meja Makan

Kisah dari Balik Jendela [Prompt #16]

Seperti malam-malam sebelumnya, aku duduk disini. Dari balik jendela kamar ini aku bisa melihatnya. Gadis itu, sekitar tiga minggu sudah aku menjadi pemuja rahasianya–jangan tertawa! Meskipun istilah ini memang terdengar klise kacangan.

Malam ini dia menggerai rambutnya yang sebahu, sungguh cantik. Seperti biasa pula, jendela kamarnya selalu terbuka–dia hanya menutup tirainya saat akan tidur–sehingga aku bisa melihat dia dengan jelas dari jendelaku. Memperhatikan dan mengagumi tiap bagian dari dirinya.

Dia melangkah menuju pianonya. Ah ya, inilah momen yang selalu aku tunggu. Saat dia bermain dengan pianonya, memainkan lagu yang aku tak tahu judulnya apa tetapi selalu berhasil menentramkan hati, tak pernah bosan setiap malam aku melihat pemandangan ini.

Baca lebih lanjut

Too Much Love Will Kill You [Prompt #15]

Credit

Nay,

Aku tak mampu menghadapi semua ini lagi. Aku telah kalah oleh kehidupan yang hitam. Aku menyerah dalam semua kepenatan ini.

Maaf Nay. Kumohon, tetaplah bertahan.

Pada akhirnya nanti, kita akan berjumpa lagi. Percayalah. Di ujung perjalanan, di saat semuanya sudah berakhir, kita akan bersatu di dunia yang lebih baik.

Selamat tinggal Nay.

Arya.

Untuk terakhir kalinya, Naya menatap sepucuk kertas di tangannya. Tangannya bergetar. Hatinya sakit, serasa teriris sembilu. Matanya tak sanggup menahan air mata yang sedari tadi tertahan. Tertahan oleh ribuan rasa ngilu, sakit, pedih dan kegetiran yang terburai mengaduk-aduk perasaannya.

Naya berjalan gontai. Dimasukkannya kembali selembar surat terakhir dari Arya ke dalam tasnya. Kemudian, perlahan, langkah gontainya berubah tegap. Dengan pasti dia melangkah, menuju pintu terakhir, tempat dia akan menyelesaikan akhir dari semua kegetiran yang merenggut senyumnya selama dua tahun terakhir. Dengan mata nanar dia menatap  pintu yang ada di hadapannya. Baca lebih lanjut