Tahun 2016 dalam Playlist Saya.

Lama tak bicara musik, kali ini saya ingin berbagi opini mengenai album-album beberapa musisi Indonesia yang sering berputar di playlist saya selama 2016. Saya kerucutkan, album yang keluar di akhir 2015 sampai pertengahan 2016.

1. Taifun – Barasuara

Iga Massardi adalah kunci! Dia mengumpulkan beberapa musisi idealis, bersama-sama mereka mengangkat idealisme musik yang sudah lama didambakan Iga menjadi nyata. Dan tertumpah ruah ke dalam 9 deret lagu di album Taifun.

Jenius, Gila dan Membara! Sekiranya itu yang bisa saya utarakan untuk album ini.

Semua tembangnya saya favoritkan. Dari Nyala Suara yang penuh tekad bangkit melawan belenggu. Bahas Bahasa yang penuh pergolakan makna. Sendu Melagu yang meredam penyesalan. Hagia yang berdamai dengan perbedaan. Api dan Lentera yang bergerak untuk perubahan. Menunggang Badai yang melawan ragu. Tarintih yang berserah diri pada kasih “Ibu”. Mengunci Ingatan yang menolak lupa. Dan Taifun yang bijak dan meneduhkan.

2. Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti – Banda Neira

Rara Sekar dan Ananda Badudu menunjukkan kematangan musik mereka di album kedua ini. Sedihnya, ini adalah album perpisahan “sementara”. Karena setelah rilis album ini, Rara pergi melanjutkan studi ke New Zealand. Mereka bilang akan vakum sampai waktu yang ditentukan. Duh, sedih 😦

Sejak duo ini muncul pertama kali dengan album extended plugin/mentah mereka di soundcloud, saya sudah mem-favoritkan dan mengikuti kiprah mereka.

Keputusan menggaet beberapa musisi indie lain–yang jenius–untuk membantu penggarapan album kedua mereka adalah brilian! Ada Gardika Gigih Pradipta yang memukau dengan pianonya (saya juga mengikuti musiknya, dimana lagu-lagu gubahan dia itu Soundtrack-able banget!). Juga ada Layur, Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, Dwi Ari Ramlan, dan Leilani Hermiasih/Frau dalam daftar kontributor album kedua duo “nelangsa pop” ini.

Semua lagu di album ini favorit saya. Tapi kalau disuruh memilih yang paling berkesan, saya akan memilih “Sampai Jadi Debu” dan “Derai-derai Cemara”. Karena dua lagu itu bikin saya “mbrebes mili”. Gimana tidak?

Yang pertama adalah lagu persembahan untuk mendiang JS Badudu dan Istrinya, yang merupakan potret kalimat klise tapi magis “Cinta sampai di penghujung usia”.

Yang kedua adalah musikalisasi puisi Sang Penyair pendobrak kemapanan yang harus mengakui kekalahannya terhadap kehidupan. Chairil Anwar. Dimana di masa awal hidupnya dia berapi-api mengaku sebagai binatang jalang. Tapi di penghujung hidupnya harus terkapar di tempat tidur, melawan penyakit sifilisnya, dan berucap “hidup hanya menunda kekalahan”.

3. Dandelion – Monita Tahalea

Oke, ini satu-satunya nama di luar “area” kedua musisi yang saya sebutkan sebelumnya. Dia sudah beken sejak menjadi finalis 4 besar Indonesian Idol tahun 2005. Dan selama tahun 2005 sampai 2015, saya tak pernah begitu menyimak musiknya, karena tak terlalu istimewa buat saya.

Tapi dia menjadi sangat berbeda ketika meramu album Dandelion ini (entah ini albumnya yang ke berapa). Awal saya tertarik musik dia adalah ketika tak sengaja beberapa waktu lalu melihat penampilannya di Galeri Indonesia Kaya dalam acara bertajuk “Sejak saat itu langit senja tak lagi sama”. Cukup kaget juga dia tampil bersama bassist Barasuara, Gerald Situmorang, yang dalam formasi band Monita ini didapuk sebagai gitaris.

Usut punya usut, rupanya Gerald ini lah orang yang berada di belakang album Dandelion Monita. Monita dan Gerald bersama mem-produksi album ini. Mereka berdua juga yang membuat lirik dan meng-aransemen musik di tiap lagunya. Dan mereka mem-produksi album ini tanpa ada mayor label di atasnya, jadi bisa dikatakan ini adalah album indie.

Pantas saja! Rupanya dengan format indie ini lah kemampuan sesungguhnya dari Monita berhasil keluar. Lirik-liriknya yang bernas, meraup kata dengan cerdas dan membungkusnya dengan puitis tapi tak mendayu-dayu cengeng. Ditemani musik yang tak berlebihan tapi tepat menghujam dengan makna.

Semua tembang di album ini favorit saya. Saya memilih “168” dan “Memulai Kembali” untuk yang paling mengena buat saya.

4. Zaman, zaman – The Trees and The Wild

Saya sudah pernah membahas betapa magisnya musik mereka di tulisan saya terdahulu. Dan tentu saja saya menunggu dengan antusias selama beberapa tahun album kedua mereka. Meski ditinggalkan Iga Massardi yang membangun Barasuara. Saya tetep percaya terhadap TTATW, karena kekuatan mereka terletak merata di seluruh personilnya.

Dan benar saja, mereka makin “sakit dan gila” ketika album “Zaman, zaman” keluar. Mereka tak lagi sekadar mengusung tema folk, tapi sudah mengarah ke ambience progressive rock yang membius dan membuat menggelinjang.

Mendengarkan seluruh tracklist di “Zaman, zaman”, membuat saya percaya, ganja bukanlah segalanya.

Yang terfavorit menurut saya, tentu saja, “Zaman, zaman” dan “Empati Tamako”. Saya dengar “Empati Tamako” cukup personal untuk Remedy Waloni, sang vokalis. Karena dia berasal dari Tamako, sebuah kecamatan di Kepulauan Sangihe, yang berada di ujung perbatasan utara Indonesia dengan Filipina.

Sekian opini musik saya di 2016.

Tabik!

Iklan

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s