Berdamai dengan Masa Lalu Melalui Surat dari Praha.

SDP-Still-Foto-15

Surat dari Praha.

Sudah lama saya tak menyaksikan film Indonesia yang mampu menggabungkan elemen musik dan alur cerita menjadi satu kesatuan yang apik. Terakhir kali saya menikmati film semacam itu adalah pada Petualangan Sherina. Mungkin ada film di masa sesudahnya yang menggunakan metode semacam itu, tapi tak ada yang benar-benar meninggalkan kesan ke saya saat keluar dari studio bioskop. Dan Surat dari Praha, bisa saya bilang sangat berhasil menyajikan “relasi film dan musik” dengan sangat manis, meninggalkan kesan kuat di hati penontonnya.

Kemala Dahayu Larasati/Laras (Julie Estelle), seorang wanita karir mandiri dan berhati keras memperoleh wasiat dari Ibunya, Lastri (Widyawati) yang meninggal karena sakit. Sebelumnya Laras ingin mengambil warisan dari Ibunya untuk biaya perceraiannya (diceritakan Laras memiliki permasalahan dengan rumah tangganya).

Warisan baru bisa dia peroleh jika dia berhasil menyelesaikan wasiat terakhir Ibunya, yaitu mengantarkan sebuah kotak dan surat dari Ibunya kepada seorang lelaki bernama Jaya (Tio Pakusadewo) yang tinggal di kota Praha, Cekoslovakia.

Laras yang juga memiliki hubungan tak harmonis dengan Ibunya, akhirnya dengan berat hari berangkat ke Praha. Tak disangka, wasiat dari Sang Ibu tak semudah itu dia selesaikan. Pak Jaya rupanya tak mau menerima kotak dan surat tersebut. Singkat cerita, karena sebuah masalah tak terduga yang menimpa Laras, Laras harus tinggal beberapa lama di rumah Pak Jaya di Praha. Selama beberapa hari itulah, persoalan-persoalan muncul di antara mereka berdua dan membuka satu per satu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang melingkupi kehidupan Laras dan masa lalu Pak Jaya.

Tak seperti film-film Indonesia berlatar luar negeri kebanyakan yang sedang nge-tren akhir-akhir ini, yang hanya mengekspose keindahan negeri-negeri di luar Indonesia tanpa diimbangi cerita yang berbobot.

Surat dari Praha tak terjebak dalam permainan “eksplorasi luar negeri” tersebut, Angga D. Sasongko (Cahaya dari Timur, Filosofi Kopi) berhasil menunjukkan kematangannya sebagai sutradara. Alur cerita, musik, dialog dan karakter dalam Surat dari Praha, buat saya, meski tanpa mengambil latar Praha pun tetap akan menjadi film yang brilian. Kehadiran Praha seolah “hanya” menjadi elemen penguat di sisi sinematografi dan latar belakang cerita.

Film ini, bagaikan sebuah kado yang manis untuk Glenn Fredly. Menyimak interview saat film ini menjelang tayang di bioskop, Glenn Fredly selaku produser mengutarakan bahwa film ini adalah retrospektif tonggak pencapaiannya selama 20 tahun berkarya di dunia musik.

Kerja sama Glenn dan Angga D. Sasongko di film ini memang melibatkan lagu-lagu karya Glenn sebagai unsur utama dalam membalut alur cerita Surat dari Praha. Kerjasama itu berhasil diracik dengan jenius oleh Angga, lagu dari Glenn bertajuk “Sabda Rindu” dan “Nyali Terakhir” menjadi senjata utama untuk mengaduk emosi penonton. Dan benar, senjata itu tepat menembak sasaran ke saya.

160202071548_surat_dari_praha_5_640x360_visinema_nocredit

Selain dua lagu di atas, masih ada lagu Glenn lainnya dari sisi yang sering luput dari perhatian para penggemar musik Glenn, yaitu “Menanti Arah”. Lagu ber-konten “sosial politik” ini menjadi salah satu unsur kuat yang membangun kisah dari sisi kehidupan Jaya yang merupakan salah satu mantan mahasiswa Indonesia di Praha yang terkena dampak dari perubahan situasi politik Indonesia tahun 1965.

Dari awal, Surat dari Praha sudah ditasbihkan sebagai film drama romansa. Meski ada unsur sosial politik di dalamnya, Angga D. Sasongko tak terjebak untuk membawa unsur tersebut masuk terlalu dalam ke alur cerita. Begitu juga latar indah kota Praha, Angga berhasil menempatkan semua elemen tersebut sesuai dengan porsinya tanpa harus menjebak penonton ke jaring-jaring kerumitan yang tak perlu.

Surat-dari-Praha_1

Dari awal film ini, meski berjalan lambat, tapi dengan pasti, berhasil membawa saya larut ke dalam kisah antara Laras dan Jaya. Bahkan saat “Sabda Rindu” dan “Nyali Terakhir” diperdengarkan, saya benar-benar terjebak dalam permainan emosi yang dibangun melalui karakter mereka berdua. Angkat topi untuk kejeniusan akting kedua artis dari generasi yang berbeda, Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Mereka adalah elemen penting yang membuat Surat dari Praha menjadi sangat berkesan dan mengaduk emosi. Keduanya saling mengimbangi dan menutup kelemahan satu sama lain, menjadikan “strange chemistry” Laras dan Jaya benar-benar mampu dirasakan oleh penonton.

maxresdefault (1)

Semuanya semakin bertambah manis karena penonton disuguhi penampilan Julie Estelle bermain piano dan menyanyi. Dan cukup di luar dugaan–setelah terakhir kali mendengar Julie Estelle hanya bernyanyi “Lengser Wengi” di Kuntilanak–Julie berhasil bernyanyi dengan apik. Bahkan salah satu scene dimana dia bermain piano, setelah saya menyimak behind the scene-nya, dilakukan dengan live. Salut!

maxresdefault
Tak lupa juga ada suara berat nan memikat dari Om Tio Pakusadewo membawakan “Sabda Rindu” yang bernuansa klasik khas generasinya. Dijamin wanita manapun tak akan mampu menghindar dari pesonanya saat dia bersenandung di film ini.
Semua elemen di atas, didukung dengan naskah yang padat dan berisi garapan M Irfan Ramli, menjadi satu kesatuan yang terbangun apik dan manis.

Untitled1

Layaknya saya yang selalu menanti-nanti karya brilian Joko Anwar dan Riri Riza, hal itu pun berlaku untuk Angga D. Sasongko. Untunglah Indonesia punya sineas-sineas positif seperti mereka!

—————————————

Images Source:
http://ghiboo.com/wp-content/uploads/2016/01/SDP-Still-Foto-15.jpg
http://traxonsky.com/wp-content/uploads/2016/01/Surat-dari-Praha_1.jpg
https://i.ytimg.com/vi/l6vdUh79NRs/maxresdefault.jpg
Iklan

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s