Cloud Atlas. Tentang Menjadi Manusia Yang Sesungguhnya.

Cloud Atlas

Everything is Connected

Cloud Atlas, film ini tayang di layar lebar tahun lalu, atas dasar keinginan menyudahi rasa menggelitik dalam pikiran saya sesudah menyaksikan film ini–iya, saya baru menyaksikannya beberapa hari lalu, saya acuhkan unsur “up to date” dalam artikel ini.

Tak akan saya bahas panjang lebar tentang sinopsis film independen–yang kabarnya adalah film independen termahal–karya  Lana & Andy Wachowski dan Tom Tykwer ini, kamu bisa lihat sinopsisnya disini. Btw, kita pernah mengenal kejeniusan duo Wachowski bersaudara sebelumnya lewat The Matrix.

Film ini mungkin dinilai oleh mayoritas penontonnya sebagai fiksi yang memadukan tiga elemen ke dalam satu film secara apik; science, multi plot dan alur lintas waktu yang jenius. Tapi sebenarnya ada satu elemen lagi yang menjadi bukti kejeniusan trio ini, yaitu “secret impression” yang disisipkan dalam keseluruhan cerita Cloud Atlas.

Film ini sebenarnya mengangkat tema “kemerdekaan” manusia. Tema ini sangat kuat menjadi pondasi dari jalan cerita setiap plot yang dibangun di masing-masing segmen cerita. Film ini menyentuh benak saya untuk merenungkan permasalahan terkait hak asasi manusia, tentang pengekangan/penjajahan terhadap kemanusiaan.

Mari coba simak setiap segmen cerita dalam Cloud Atlas:

1. Adam Ewing (1849)

Samudra Pasifik Selatan, 1849: Adam Ewing, seorang pengacara Amerika Serikat dari San Francisco bertandang ke Kepulauan Chatham untuk mengadakan perjanjian bisnis dengan Pendeta Gilles Horrox atas nama mertuanya, Haskell Moore. Ia melihat seorang budak Moriori, Autua, dicambuk sebelum akhirnya menyelinap ke kapal Ewing. Autua memohon agar Ewing bersedia melobi Kapten supaya Autua boleh bergabung sebagai awak kapal. Sementara itu, Dr. Henry Goose perlahan meracuni Ewing dengan dalih “racun” tersebut adalah obat pembasmi cacing parasit. Goose berencana mencuri barang-barang berharga Ewing. Saat Goose hendak menyuapkan racun mematikan, Autua menyelamatkan Ewing. Setelah kembali ke Amerika Serikat, Ewing bersama istrinya, Tilda, menolak keterlibatan ayahnya dalam perbudakan dan pergi dari San Francisco untuk bergabung dengan Gerakan Penghapusan Perbudakan.

Segmen cerita ini secara eksplisit berkisah tentang perjuangan seorang budak kulit hitam, bernama Autua, yang memiliki pengetahuan “lebih” tentang kelautan–Autua pernah menimba ilmu otodidak dari seorang pelaut–ingin menunjukkan pada dunia bahwa pengetahuan itu bukan hanya untuk orang-orang kulit putih atau golongan ningrat saja. Ketika akhirnya Autua menyelamatkan Ewing, dan ketika Ewing akhirnya memutuskan untuk aktif mendukung penghapusan perbudakan, itulah poinnya. Konsep manusia yang hidup berdampingan dan saling menopang satu sama lain tanpa memandang warna kulit atau kasta diwujudkan melalui relasi Adam Hewing & Autua.

2. Robert Frobisher (1936)

Cambridge, Inggris dan Edinburgh, Skotlandia, 1936: Robert Frobisher, seorang musisi Inggris yang biseksual, bekerja sebagai seorang amanuensis (pencatat lagu) untuk komponis Vyvyan Ayrs, sehingga Frobisher punya banyak waktu dan inspirasi untuk menggubah mahakaryanya sendiri, “The Cloud Atlas Sextet”. Akan tetapi, Ayrs ingin mengklaim karya simfoni Frobisher dan mengancam akan mengekspos latar belakang Frobisher yang jelek jika menolak permintaannya. Frobisher, yang sudah membaca separuh salinan jurnal Ewing, menembak Ayrs dan kabur ke sebuah hotel. Di sanalah ia menyelesaikan “The Cloud Atlas Sextet”, namun bunuh diri tepat sebelum kekasihnya, Rufus Sixsmith, masuk ke kamarnya.

Usaha seorang Robert Frobisher untuk meraih mimpinya menjadi musisi yang mampu menciptakan sebuah karya agung, malah akhirnya harus berurusan dengan perebutan “hak cipta” dengan gurunya. Disini hak berkarya seseorang direnggut dari kehidupannya. Akhirnya dengan sugesti dari jurnal perjalanan Adam Ewing–yang mengangkat tema anti perbudakan itu, Frobisher melakukan perlawanan terhadap “tirani” yang mengekangnya.

3. Luisa Rey (1973)

San Francisco, California, 1973: Jurnalis Luisa Rey bertemu Sixsmith yang sudah tua dan menjadi fisikawan nuklir. Sixsmith menunjukkan kepada Rey konspirasi keselamatan reaktor nuklir baru yang dioperasikan Lloyd Hooks, tetapi keburu dibunuh tangan kanan Hooks, Bill Smoke, sebelum ia menyerahkan laporan yang memperkuat perkataannya. Rey menemukan surat-surat Frobisher untuk Sixsmith dan membacanya. Isaac Sachs, ilmuwan lain di pembangkit listrik tenaga nuklir menyerahkan salinan laporan Sixsmith kepada Rey. Sayangnya, Smoke membunuh Sachs dan menabrak mobil Rey sampai terlempar dari jembatan. Dengan bantuan kepala keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir, Joe Napier, ia lagi-lagi selamat dari upaya pembunuhan yang berakhir dengan kematian Smoke. Rey kemudian mengekspos rencana pemanfaatan kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir demi keuntungan perusahaan minyak.

Seorang jurnalis yang mencoba menguak konspirasi menyangkut penyalah-gunaan wewenang dan kekuasaan seorang pengusaha. Dengan sugesti tak langsung dari surat-surat dari Robert Frobisher yang dibaca oleh Luisa Rey, dia melawan “tirani” yang ingin merenggut hak kemanusiaan masyarakat yang tak tahu apa-apa tentang konspirasi tersebut, selain itu Luisa Rey mempertahankan hak-nya untuk menyebarkan kebenaran lewat media–terkait personalnya sebagai seorang jurnalis idealis.

4. Timothy Cavendish (2012)

Britania Raya, 2012: Timothy Cavendish, seorang penerbit berusia 65 tahun, mengeruk untung setelah Dermot Hoggins, seorang penulis gangster yang bukunya ia terbitkan, membunuh seorang kritikus dan dipenjara. Ketika rekan Hoggins mengancam Cavendish sambil menuntut bagian keuntungannya, Cavendish meminta bantuan saudaranya, Denholme. Denholme menipunya dengan menyuruh Cavendish bersembunyi di sebuah panti jompo. Di sana, Cavendish merasa terkekang, tetapi berhasil kabur. Cavendish menerima manuskrip novel yang didasarkan pada kisah hidup Rey dan menulis naskah tentang kisah hidupnya sendiri di rumah.

Seorang lansia yang ingin mempertahankan hak kebebasannya menikmati hidup. Tirani perenggutan hak kemanusiaan tersebut dihadirkan melalui saudaranya dan panti jompo–dengan segenap crew dan peraturan yang mengekang ibarat di dalam sebuah penjara. Sugesti memerdekakan diri Cavendish secara tak langsung dipengaruhi oleh manuskrip yang dia baca, yang ternyata adalah kisah perjalanan hidup Luisa Rey.

5. Sonmi-451 (2144)

Neo Seoul, (Korea), 2144: Sonmi-451, seorang pelayan yang direkayasa secara genetik (klon) di sebuah restoran, diwawancarai sebelum dieksekusi mati. Ia menceritakan kembali bagaimana ia dibebaskan dari kehidupan pelayan oleh Komandan Hae-Joo Chang, anggota pemberontak “Union”. Di tempat persembunyian, ia menonton film yang dibuat berdasarkan petualangan Cavendish. Pemberontak Union menunjukkan kepada Sonmi bahwa pekerja seperti dirinya dibunuh dan “didaur ulang” menjadi makanan untuk pekerja selanjutnya. Ia memutuskan bahwa sistem masyarakat berdasar perbudakan dan eksploitasi pekerja tidak boleh dibiarkan lagi. Ia dibawa ke Hawaii untuk menyiarkan cerita dan manifestonya ke publik. Hae-Joo tewas dalam pertempuran dan Sonmi ditangkap. Setelah menceritakan kisahnya dan tujuannya, ia dieksekusi.

Bentuk perlawanan terhadap perenggutan hak kemanusiaan kali ini hadir melalui seorang manusia buatan/cloning. Tak hanya dari manusia berkulit berbeda atau dari kasta yang berbeda, manusia buatan pun memiliki hak untuk hidup layaknya manusia lainnya. Menjadi objek yang hanya boleh menurut apa kata majikan, melakukan prosedur yang tak boleh dibantah, tak boleh melawan apapun bentuk perlakuan dari manusia “original”, semua pengekangan ini membuat Sonmi menyadari ada yang tak beres dengan konsep “hak asasi” di sistem masyarakat masa depan ini . Bahkan manusia buatan pun lebih memiliki hati daripada para manusia “asli”. Salah satu sugesti yang menanamkan perlawanan terhadap tirani di dalam kepala Sonmi ini hadir melalui film yang ditontonnya, film tentang perjalanan hidup Timothy Cavendish.

6. Zachry (2321)

Pulau Besar (“106 musim dingin setelah Kejatuhan”, di buku tercantum tahun 2321): Zachry tinggal bersama saudara perempuannya dan keponakannya Catkin di sebuah lingkungan masyarakat primitif bernama “The Valley” setelah sebagian besar umat manusia tewas akibat “Kejatuhan”; anggota suku Valley memuja-muja Sonmi layaknya seorang dewi. Zachry selalu berhalusinasi melihat sosok bernama “Old Georgie” yang memanipulasinya agar pasrah dengan rasa takutnya. Rasa takut ini berujung pada pembunuhan teman dan putranya oleh suku Kona. Desa Zachry dikunjungi oleh Meronym, anggota “Prescient”, kelompok masyarakat yang masih mempertahankan sisa-sisa teknologi sebelum Kejatuhan. Sebagai balasan telah menyelamatkan Catkin dari kematian, Zachry setuju menemani Meronym ke pegunungan untuk mencari Cloud Atlas, sebuah stasiun komunikasi tempat Meronym mengirim pesan ke koloni-koloni Bumi. Di stasiun tersebut, Meronym mengungkapkan bahwa Sonmi hanyalah manusia biasa dan bukan dewi sebagaimana yang diyakini suku Valley. Sepulang dari sana, Zachry menemukan sukunya telah dibantai oleh suku Kona. Zachry membunuh kepala suku Kona dan menyelamatkan Catkin; Meronym menyelamatkan keduanya dari serangan suku Kona. Zachry, Catkin, dan Meronym akhirnya pergi dari Pulau Besar dengan kapal Prescient. Beberapa dasawarsa setelah peristiwa di Pulau Besar, Zachry menceritakan kisahnya kepada cucu-cucunya di sebuah koloni manusia di planet lain. Ia mengaku bahwa Meronym berhasil mengirim pesan ke koloni dan keduanya diselamatkan oleh mereka.

Bentuk perjuangan memerdekakan diri hadir melalui Zachry. Awalnya dia sangat anti-pati dengan kedatangan Meronym, seseorang dari golongan “Prescient”–golongan yang memiliki kelas lebih tinggi–daripada suku Valley yang tertinggal peradaban pasca peristiwa “The Fall”. Dia merasa para penduduk Valley telah ditinggalkan, dikucilkan dari segala teknologi dan peradaban baru oleh para Prescient. Segenap kejengahan dan sakit hati atas ketimpangan kesejahteraan dua kelas yang berbeda ini, akhirnya hadir dalam tokoh imajiner yang selalu menghantui Zachry bernama “Old Georgie”. Old Georgie selalu berusaha menumbuhkan emosi “antagonis” manusia dalam hati Zachry.  Dan ketika akhirnya dia tahu kebenaran dari “Tuhan” bernama Sonmi yang selama ini dia dan suku Valley sembah, segala logika Zachry serasa diaduk-aduk dan membuatnya krisis kepercayaan–kebingungan dengan siapa dan apa yang harus dia percaya.

Setiap segmen cerita di atas memiliki benang merah, setiap tokoh utama secara tak langsung memperoleh pencerahan tentang masalah yang sedang mereka hadapi melalui kisah dari tokoh lainnya yang hidup di masa lalu. Bagi saya, trio sutradara Cloud Atlas telah berhasil membangun sebuah arsitektur film yang jenius. David Mitchell–penulis novel Cloud Atlas–mungkin bisa berbangga dengan film ini, tak mudah menerjemahkan fiksi tentang kemanusiaan dalam balutan sains dan alur lintas waktu ke bentuk audio visual yang mumpuni seperti ini. Bahkan novel Cloud Atlas sendiri sebenarnya adalah salah satu dari deretan “unfilmable books“.

Secara personal, segmen cerita favorit saya adalah kisah Sonmi-451. Wujud perjuangan hak kemanusiaan justru hadir dari diri seorang manusia cloning!

Cloud Atlas menyadarkan saya tentang bagaimana “menjadi” manusia yang sesungguhnya.

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime and every kindness, we birth our future [Sonmi-451]. 

———————————————————————————-

Synopsis Reference

Image Source

Iklan

3 pemikiran pada “Cloud Atlas. Tentang Menjadi Manusia Yang Sesungguhnya.

  1. Ketika baca reviewnya, seakan dibangkitkan lagi memori soal film ini. Baru ngeh sisi lain dari film ini adalah soal ‘kemerdekaan’. Btw, lagu Cloud Atlas Sextet keren banget, saya gak bisa berhenti dengerin lagu itu terus menerus. 😀

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s