Pendekar Tongkat Emas. Rindu Yang Terjawab. #NontonPTE

Pendekar Tongkat Emas

Dara, salah satu murid Cempaka.

Terjebak di tengah padang pasir yang terik tanpa arah.
Kalimat di atas saya gunakan ketika ingin berbicara tentang perfilman silat Indonesia. Dalam hal ini khususnya adalah silat klasik kolosal.
Setelah beberapa waktu lalu Hanung Bramantyo mencoba membangkitkan lagi genre silat klasik kolosal yang tampak lesu dan madesu di Indonesia melalui Gending Sriwijaya, akhirnya oase itu datang lagi melalui Pendekar Tongkat Emas karya Ifa Isfansyah yang diproduseri oleh duo maut Riri Riza dan Mira Lesmana.

Sebuah hal yang membahagiakan ketika akhirnya perlahan namun pasti ada sineas-sineas di Indonesia berani mengangkat kembali genre silat klasik kolosal.
Pendekar Tongkat Emas tak sekadar menjawab dahaga para pecinta film silat klasik, tetapi juga menjadi jawaban untuk orang-orang yang merindukan sosok ikonik, sosok jagoan ala Indonesia yang diangkat dari komik atau novel.
Dulu kita mengenal kisah Wiro Sableng karya Bastian Tito, Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH atau Panji Tengkorak karya Hans Jaladara.
Dan sekarang kita akan disuguhi sosok baru pendekar sakti mandraguna melalui Pendekar Tongkat Emas yang terinspirasi dari komik-komik silat yang menjadi bacaan favorit Mira Lesmana sewaktu kecil dulu.

Singkatnya, Pendekar Tongkat Emas bercerita tentang seorang Guru silat perguruan Tongkat Emas bernama Cempaka (Christine Hakim) yang akan mewariskan senjata saktinya yaitu Tongkat Emas kepada salah satu dari 4 muridnya; Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia) dan Angin (Aria Kusumah). Selain memperoleh senjata sakti Tongkat Emas, salah satu murid itu juga akan diwarisi ilmu sakti mandraguna bernama “Jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi”, yang hanya dikuasai oleh dua orang di dunia ini, yaitu oleh Cempaka sendiri dan pendekar Naga Putih yang merupakan pasangan dari Cempaka di masa lalu.

Tetapi dalam proses pewarisan senjata dan jurus sakti tersebut, terjadilah pengkhianatan-pengkhianatan dan pertumpahan darah memperebutkan Tongkat Emas tersebut. Dan kunci penyelesaian dari segala prahara yang terjadi tersebut sesungguhnya terletak pada diri pendekar Naga Putih yang telah lama menghilang dari dunia persilatan.
Dalam tragedi dan konflik antara para pendekar yang memperebutkan tongkat emas inilah nanti juga akan muncul sosok misterius bernama Elang (Nicholas Saputra).

Film ini sukses memberikan atmosfer yang saya rindukan, atmosfer yang sama yang pernah saya rasakan saat menyaksikan film-film silat kolosal semacam Tutur Tinular atau Saur Sepuh di masa kecil dulu.
Salut untuk segenap crew film ini yang dengan jeniusnya menemukan satu titik di Indonesia yang mampu merepresentasikan dengan sempurna nuansa silat kolosal Indonesia, yakni tanah Sumba di Nusa Tenggara Timur. Dengan latar pemandangan bukit dan sabana serta tebing pantai di sudut-sudut Sumba, sungguh memanjakan mata penonton, apalagi untuk penonton yang memiliki obsesi sebagai traveller.
Tak lupa pula disertai dengan tata kostum dan setting properti yang seolah meleburkan beberapa budaya Asia, film ini berhasil menghadirkan nuansa etnik yang apik. Ada unsur-unsur Tiongkok yang dipadukan dengan beberapa kearifan lokal khas Indonesia. Perpaduan unsur budaya ini melahirkan sebuah negeri antah berantah utopis yang kental dengan nuansa dunia persilatan. Erwin Gutawa juga berhasil menampilkan tata musik yang brilian, mengiringi jalan cerita dengan musik-musik etnik khas film kolosal Asia. Menurut saya, semua kombinasi latar, kostum, properti dan musik adalah keunggulan utama dari film ini, semuanya terjalin rapi dan berhasil membangunkan emosi “dunia persilatan” di dalam diri para penontonnya.

Dari segi cerita, film ini tak menyajikan dialog dan jalan cerita yang rumit. Mungkin bagi beberapa orang, dialog-dialognya terkesan kaku karena menggunakan ejaaan dan kata-kata yang baku sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang benar. Tapi bagi saya, memang beginilah seharusnya film silat kolosal, sudah saatnya kita kembali mengingat betapa agungnya Bahasa Indonesia saat kita gunakan sesuai kaidahnya.
Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma telah melakukan tugasnya sesuai dengan takaran yang tepat dalam penyusunan naskah film ini. Tentulah bukan hal sulit bagi seorang Seno Gumira terlibat dalam film silat klasik seperti ini, kita telah kenal kepiawaiannya menulis cerita silat klasik di novelnya “Nagabumi”. Meski begitu, saya menyayangkan bahwa dengan kapasitas seperti Seno Gumira dan Jujur Prananto, mereka seharusnya bisa membuat naskah yang lebih dari sekadar “takaran yang tepat”. Dialog-dialog film ini tak buruk, tapi tak memiliki nilai yang mampu meninggalkan kesan dalam di benak saya.

Akting dari setiap cast-nya tak ada yang mengecewakan, semuanya bermain dengan porsi yang tepat sesuai karakter masing-masing. Tapi secara personal saya lebih menyukai karakter-karakter villain di film ini. Para artis yang berperan menjadi antagonis di film ini mampu memunculkan pesonanya dengan apik, sorot mata yang tajam, ambisius dan penuh dendam, senyum yang getir licik, gestur tubuh dan raut wajah yang emosional. Pesona karakter-karakter antagonisnya menurut saya malah mengalahkan pesona karakter protagonisnya sendiri yang dibawakan secara datar dan kurang emosional. Oh ya, jangan lupakan juga bocah pendatang baru Aria Kusumah yang berperan sebagai Angin, penampilannya sungguh ikonik dan spesial menurut saya.

Mungkinkah Angin punya hubungan kekerabatan dengan Aang Sang Avatar?

Mungkinkah Angin punya hubungan kekerabatan dengan Aang Sang Avatar?

Satu hal yang penting dalam film silat tentunya adalah “silat”nya sendiri. Dengan dukungan nama seperti Xiong Xin Xin–yang pernah menjadi stuntman Jet Li–sebagai salah satu koreografer laga film ini, tentunya tak perlu diragukan lagi seperti apa kualitas adegan pertarungan para pendekar di film ini. Meskipun begitu, saya sedikit merasa terganggu dengan pengambilan-pengambilan angle kamera dalam adegan-adegan pertarungannya, terkadang tak fokus ke aksinya dan seringkali menyorot terlalu dekat sehingga gerakan-gerakan silatnya tampak kabur. Hal ini membuat gerakan-gerakan laga yang sebenarnya telah disusun dengan apik kurang tereksplorasi secara maksimal. Tapi saya bisa memaklumi hal ini, karena tentunya bukan hal yang mudah untuk menyamarkan stuntman dan kawat sling dalam adegan film laga seperti ini, sehingga perlu dilakukan beberapa cara tricky untuk mengatasinya. Inilah salah satu kelemahan film silat ketika beberapa artis utamanya tak berlatar belakang bela diri murni. Mungkin saja pandangan saya ini ter-distorsi oleh Merantau dan The Raid. Tak bisa dipungkiri standar film aksi Indonesia menjadi naik sejak kemunculan dua film tersebut.

Dengan keseluruhan budget yang sangat besar serta segala nuansa dunia persilatan yang berhasil dibangun dengan sangat apik di film ini, sangat disayangkan ketika kedalaman cerita dan emosi karakter di film ini tak tergali secara optimal (pandangan subjektif saya). Padahal premisnya sangat menarik.

Terlepas dari beberapa titik lemahnya, sangat disayangkan jika sebuah karya yang berpotensi menjadi legendaris seperti ini dilewatkan dari bioskop. Pendekar Tongkat Emas punya sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar aspek teknis dan storyline. Pendekar Tongkat Emas memiliki sesuatu yang disebut orang sebagai titik balik, titik awal revolusi, pemantik perubahan. Menyaksikan Pendekar Tongkat Emas ibarat menikmati sebuah maha karya klasik. Layaknya kita berada di museum dan menyaksikan sebuah prasasti yang telah lama hilang kemudian ditemukan kembali dan mengungkap sebuah rahasia sejarah kuno.

Akhirnya, dengan segala aspek di film Pendekar Tongkat Emas, saya merasakan sensasi yang menyenangkan seusai keluar dari bioskop. Sensasi yang sama seperti saat selesai menyaksikan AADC di 2002 dulu, sensasi rindu yang terjawab. Jika AADC dulu menjawab rindu akan film remaja berkualitas yang lesu di per-film-an Indonesia, kali ini yang terjawab adalah rasa rindu pada film silat klasik kolosal berkualitas (sekali lagi, saya bold kata berkualitas ini) yang telah lama tak muncul di layar perak Indonesia.

Semoga Pendekar Tongkat Emas ini menjadi tonggak bersejarah kebangkitan kembali genre silat klasik di ranah per-film-an Indonesia. Berharap revolusi positif di genre film seperti ini akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Semoga!

“Berikan Tongkat Emas itu padaku!”

#NontonPTE

_____________________________________________________

Image Source 1

Image Source 2

Iklan

6 pemikiran pada “Pendekar Tongkat Emas. Rindu Yang Terjawab. #NontonPTE

  1. keep go blog bang 😀

  2. Waow kemarin pengen nonton ini. Tp pesonanya kalah dg The Hobbit sih ya… Prefer the hobbit deh. Tp jd penasaran gara2 review ini… Huhu

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s