Musik Indie Indonesia di Telinga Saya

Kali ini saya ingin memperbincangkan beberapa musisi indie dalam negeri yang selalu mengisi track list di smartphone saya, menemani perjalanan saya yang sering melintas bolak balik Bogor-Jakarta di dalam commuter line.

Pertama dan yang selalu menjadi favorit, adalah Banda Neira

Banda Neira

Banda Neira

Saya menemukan tembang-tembang mereka pertama kali ketika berkelana di ranah soundcloud, lupa apa kata kunci yang waktu itu saya tulis. Seperti halnya Payung Teduh dan Dialog Dini Hari, Banda Neira juga salah satu musisi indie yang menurut saya masih menggunakan tata bahasa sastrawi yang apik. Simaklah lirik-lirik mereka yang membawa nuansa tentram dan meneduhkan hati, misalnya di tembang “Hujan di Mimpi” ini:

Seperti hadirmu di kala gempa

Jujur dan tanpa bersandiwara

Teduhnya seperti hujan di mimpi

Berdua kita berlari

Lebih lengkapnya bisa kamu lihat disini: Lirik Lagu Banda Neira

Banda Neira adalah duo dari Rara Sekar (vocalist, xylophone) dan Ananda Badudu (vocalist, gitaris).

Rara Sekar, aktivis sosial yang juga aktif di Kopernik ini mungkin saja memang terlahir dari keluarga yang punya idealisme musik yang kuat, adiknya, Isyana Sarasvati pernah berprestasi di Grand Prix Asia Pasific Electone Festival (2005, 2008, 2011).

Ananda Badudu, cucu dari J.S.Badudu (Tokoh besar bahasa di Indonesia) ini sekarang aktif sebagai wartawan di Tempo. Bisa jadi karena darah “bahasa” yg turun temurun itulah melahirkan kepiawaiannya merangkai lirik dan nada.

Di masa kuliah, Ananda dan Rara aktif di Media Parahyangan, Universitas Katolik Parahyangan, wadah pers mahasiswa. Tak diragukan lagi bagaimana idealisme mereka berdua membentuk warna musik mereka di Banda Neira. Mendengarkan lagu-lagu Banda Neira tak ubahnya seperti menikmati puisi. Menikmati lagu-lagu mereka membuat saya sadar, sastra Indonesia belum mati. Bahasa Indonesia masih punya kekuatannya, berbagai apatisme anak muda Indonesia terhadap sastra di masa sekarang masih bisa diselamatkan. Lewat lagu, Banda Neira mengapresiasi sastra Indonesia.

Berikut salah satu tembang yang sering menemani saya pulang dari Jakarta ke Bogor di kala senja:

Musisi yang kedua adalah Frau.

Frau

Frau

Frau adalah Leilani Hermiasih dan Oscar, pianonya.

Wanita lulusan jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada ini lebih suka menyebut Frau adalah sebuah kesatuan band, bukan cuma seorang. Menjelaskan bagaimana hubungan batin yang terjadi antara seorang musisi dan alat musiknya. Kala saya mendengar musik Frau, saya teringat dengan Regina Spektor, ya, warna musik Frau saya rasa banyak dipengaruhi oleh musisi jenius berdarah Rusia itu.

Dengan idealismenya, Frau menggubah lagu-lagunya menjadi cermin dari kehidupan. Ada sudut pandang filosofis yang unik dari nada-nada dan lirik lagunya. Misalnya seperti di tembang “Empat Satu”.

Perhatikan Tuan … sebelum semua kartu ditukarkan,

Kesempatan hanya sekali dan sekali itu tak mudah.

Tebaklah oh tebak manakah ratumu mana yang kau kejar.

**Ambil dan buang, terdengar mudah tapi susah.

Cari yang aman atau kau pilih untuk menantang.

Lawan-lawanmu telah mulai menabung kartu yang diimpikan,

Bagaimana denganmu Tuan.. apakah hanya mendapat sisa?

Tebaklah oh tebak mungkinkah kartuku yang kau inginkan?

**Ambil dan buang, terdengar mudah tapi susah.

Cari yang aman atau kau pilih untuk menantang.

Lagu di atas sekilas terdengar bercerita tentang sekelompok orang yang bermain permainan kartu “Empat Satu”. Tapi, setelah mendengar berkali-kali, pemahaman yang unik muncul dari sudut padang saya, ini bukan sekadar tentang permainan kartu. Lagu ini adalah tentang kehidupan. Tentang takdir. Dan lain waktu ketika saya mendengarnya lagi, pemahaman saya berubah lagi, lagu ini adalah tentang cinta. Begitulah cerdasnya Frau, lagu ini membuat kita merasakan sensasi yang berbeda-beda tergantung dari kondisi kita saat mendengarnya. Lagu ini melebur bersama kehidupan sang pendengarnya.

Berikut ini lengkapnya lagu “Empat Satu” tersebut:

Musisi ketiga adalah The Trees and The Wild.

The Trees and The Wild

The Trees and The Wild

Mereka adalah Andra Budi Kurniawan, Iga Massardi, Remedy Waloni, ditemani dengan backing vocal bersuara magis mereka Charita Utamy. Tapi ini formasi beberapa tahun lalu, sekarang setelah Iga Massardi keluar, formasi mereka adalah: Remedy Waloni, Charita Utamy, Andra Budi Kurniawan, Hertri Nur Pamungkas dan Tyo Prasetya. 3-1 = 5, matematika di musik memang abstrak.

Cobalah dengar lagu-lagu mereka dengan mata terpejam, maka yang terasa olehmu adalah nuansa aneh seperti berada di sebuah tanah antah berantah, merangsangmu untuk melakukan perjalanan jauh, menjelajah, terhanyut dalam petualangan, menemukan kehidupan baru.

Saya mungkin terlalu berlebihan, tapi begitulah saya menggambarkan musik mereka. Musik mereka bercerita, seolah berdongeng. Ada daya magis di nada-nadanya.

Cobalah simak tembang “Our Roots” mereka ini:

Keterlibatan unsur etnik yang tertanam di dalam lagu ini benar-benar jenius. Nuansa di nada-nadanya menghubungkan batin kita dengan tanah air, mengingatkan tentang akar kita, tentang Indonesia. Entah bagaimana, tapi suara Charita Utamy dan gaya etnik dalam petikan gitar di lagu ini–meski tanpa lirik pun–mampu bercerita kepada kita tentang esensinya.

Sebenarnya masih ada Payung TeduhNosstress, Dialog Dini Hari, Pygmy Marmoset dan Parisude yang tembang-tembangnya menjadi favorit saya. Belum lagi juga ada para sesepuh, Pure Saturday dan Efek Rumah Kaca yang ada di playlist.

Tapi, ketiga musisi indie yang saya perbincangkan di atas adalah yang paling mengesankan di antara yang mengesankan bagi saya. (Ingat, ini berdasarkan telinga pribadi, subjektif!).

Sekian segelintir obrolan hari ini. Selalu dukung idealisme musisi indie Indonesia!

Iklan

7 pemikiran pada “Musik Indie Indonesia di Telinga Saya

  1. Kalau kamu? Siapa musisi indie-mu?

  2. wah, aku klik soundcloudnya Senja Di Jakarta, enak juga musiknya! suka! thanks ya telah memperkenalkan Banda Neira 🙂 Aku suka banget band Cozy Street Corner, sejak mereka masih kuliah…

    • Wah, saya malah baru tahu Cozy Street Corner dari komen mbak ini, saya putar lagunya di soundcloud, dan keren!
      Thank’s jg mbak udah ngenalin musik Cozy Street Corner. 😀

  3. Musik indie emang bnyk yg berkualitas..:)

  4. Ping balik: Tahun 2016 dalam Playlist Saya. | Lintas Genre

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s