Catatan “Sedikit Panjang” Tentang “Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya”

Ihya Image Copyright

Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Penulis: Dewi Kharisma Michellia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Juni 2013

Tebal: 240 halaman

Apa yang dipikirkan seorang wanita lajang berusia 40 tahun-an? Pernikahan.

Itu secara sederhananya. Dan tema sederhana itu menjadi ide dasar untuk membangun sebuah cerita—seperti yang terjadi di novel ini. Beberapa komponen tambahan untuk mendukung ide dasar pun disisipkan, seperti: cinta pertama yang tak sampai, personalitas semi anti-sosial yang tak suka mengikuti arus utama, penyakit yang menggerogoti usia, surat panjang berbentuk memoar dan perasaan kosong serta kesendirian menjalani hidup.

Hal-hal tersebut dibangun dalam bentuk epistolari yang panjang, datar dan cenderung bertele-tele. Panjang, datar dan bertele-tele tentunya akan disematkan pada novel ini bagi pembaca yang tak terbiasa membaca novel berbentuk epistolari semacam ini. Saya pun sempat berada di fase “tak mampu menyelesaikan” novel ini ketika telah berada di pertengahan buku. Tapi, perasaan depresi yang menjadi atmosfer kuat di buku ini rupanya berhasil memaksa dan menggiring saya untuk membaca sampai halaman pamungkas.

Novel ini, sesuai judulnya, adalah tentang surat panjang.

“Maka bila surat-suratku ini kelak diberikan judul, aku mungkin akan dengan jail menamainya “Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya”.” (Hal 211)

Seorang wanita berusia 40 tahunan—yang menyebut dirinya sebagai Nona Alien—menulis 37 surat untuk seorang lelaki yang dia sebut Tuan Alien.

Nona dan Tuan Alien telah berteman dari kecil, bermula dari kesamaan mereka yang sama-sama merasa menjadi Alien asing di Bumi tempat mereka tinggal. Sama-sama tak cocok dengan kehidupan manusia di sekitarnya, mereka lebih suka mengasingkan diri dari keriuhan sekitar, hingga akhirnya mereka bertemu dan menemukan kecocokan satu sama lain. Tapi kedekatan mereka berdua mulai berjarak ketika memasuki fase dewasa.Tuan Alien mulai disibukkan dengan kesibukan-kesibukan layaknya manusia arus utama lainnya. Sedangkan Nona Alien juga akhirnya mencoba menyibukkan diri seperti manusia lainnya, menjalani passion hidupnya dan menjadi mandiri tanpa terikat apapun.

“Aku memberi arti bagi hidupku baru sekadar dengan memberi diriku hadiah yang terus-menerus. Aku memberi diriku kebebasan untuk melakukan dan menjadi apa pun, mempelajari hal-hal yang kusuka, tinggal di apartemen, disusul dengan membeli segala isi apartemen.” (Hal 174)

Tuan Alien mulai terasa jauh dan menjadi berbeda bagi Nona Alien. Meski begitu, Nona Alien masih menunggu Tuan Alien untuk kembali padanya.

“Jeda memberi kesempatan tumbuh dan berkembangnya suatu hubungan, lebih-lebih hubungan asmara. Namun, jarak yang begitu jauh terkadang justru memutus keterhubungan.” (Hal 211)

Hingga suatu hari, penantian Nona Alien rupanya berakhir dengan

“Kau keterlaluan. Kau selipkan kartu undangan pernikahan dalam surat pertamamu selama puluhan tahun ini. Beserta sebuah bingkisan besar. Untukku, yang isinya hanya kebaya murah yang harus kukenakan menghadiri resepsimu, dengan selipan kartu yang berisi tulisan “datanglah sebagai sahabat kecilku yang manis dengan kebaya ini”. Kau benar-benar seolah-olah meledekku yang masih melajang hingga usia 41.” (Hal 14-15)

Setelah itu, dimulailah rutinitas Nona Alien menulis surat-surat panjang untuk Tuan Alien. Rutinitas yang lahir dari kekecewaan Nona Alien atas Tuan Aliennya yang telah pergi darinya.

“Wong Kar Wai seolah-olah menciptakan My Blueberry Nights khusus untukku. Sedikit banyak ia merefleksikan apa yang kurasakan saat ini. How do you say goodbye to someone you can’t imagine living without? I didn’t say goodbye, I didn’t say anything, I just walked away.” (Hal 187)

Rutinitas yang dibangun dalam atmosfer depresi—meski tak ditampilkan secara eksplisit, tapi bisa dipahami secara emosional lewat penuturan-penuturan Nona Alien. Seolah-olah, melalui surat-surat yang ditulisnya, kita bisa ikut masuk ke alam bawah sadar Nona Alien dan merasakan luka hidupnya.

“Baru di bangku kuliah aku mengetahui buku itu banyak memunculkan gagasan Jung, terutama tentang interpretasi mimpi untuk menerjemahkan apa yang terjadi pada alam bawah sadar manusia. Dan aku menggemarinya sejak saat itu. Dari sana aku tahu bahwa luka manusia disimpannya dalam ketaksadarannya.” (Hal 52)

Dari awal hingga akhir novel ini, tak pernah ada nama yang digunakan untuk menyebut seseorang. Penulis selalu menggunakan kata semacam Tuan Pemilik Toko Buku, Anak Tuan Pemilik Toko Buku, Nyonya Pemred, Tuan Alien, dll. Hal ini menjadi salah satu poin dalam membangun nuansa keterasingan hidup Nona Alien, seolah dia tak ingin mengingat nama orang-orang di sekitarnya, tak peduli dengan apa yang disebut nama. Seolah dia ingin lahir dan meninggal tanpa perlu diingat oleh orang lain, karena itulah dia menanggalkan nama, karena nama lah yang membuat seseorang bisa diingat oleh orang lainnya.

“Semua ketidaktahuan kita akan hal-hal yang ada di Bumi, segala ketiadaan upaya dari kita untuk mencoba menamai mereka. Itu menunjukkan bagaimana bumi yang polos sesungguhnya dapat kita perlakukan dengan sama polosnya. Mungkin dalam perjalananku, aku akan juga bertanya pada hutan-hutan, lautan-lautan, dan semua hal yang kutemui: apakah mereka pernah merindukan panggilan mereka yang sebenarnya?” (Hal 176)

Nona Alien menulis surat-surat panjang itu dengan segenap usaha dirinya untuk meninggalkan masa lalu, meskipun dia tak punya tempat untuk pulang.

“Di punggung tiap pejalan pada masa lalu, kupikir mereka selalu menggendong kehidupan—sama seperti kita. Mereka membawa segala hal yang mungkin dapat membuat mereka ingat untuk kembali pulang.” (Hal 177)

Terjerat dengan rasa kecewa yang diperparah dengan kegamangannya pada kematian—yang muncul karena vonis kanker yang dia terima dari dokter.

“Bukankah selalu ada bagian di dalam diri setiap orang yang menginginkan kematian, tetapi pada waktu yang sama juga tak menghendakinya?” (Hal 179)

Di tengah kesehariannya yang datar dan kosong, Nona Alien masih sempat merasakan kekeluargaan yang nyaman melalui persahabatannya dengan Tuan Pemilik Toko Buku. Banyak dari penuturannya di novel ini adalah tentang kesehariannya yang berhubungan dengan kehidupan Tuan Pemilik Toko Buku, salah satunya saat perayaan hari ulang tahun Nona Alien.

“Ia lantas menggodaku. Ia bilang, orang yang sedang kasmaran perlu banyak makan mi. Sebagaimana mi dalam perayaan hari ulang tahun dipercayai sebagai perlambang usia yang panjang, mi dalam kisah asmara juga akan menjalinkan takdir baik antara sejoli.” (Hal 128)

Dan pada akhirnya, penulis menutup novel ini dengan sesuatu yang sebenarnya sudah bisa ditebak ketika telah membaca ¼ isi novel ini.

“Namun kusadari bahwa setiap orang yang datang telah bersumpah secara tak langsung untuk pasti kembali ke asalnya. Karena kehidupan yang penuh dan lengkap adalah soal hidup dan mati itu sendiri. Dan kalau ada sesuatu yang abadi kupikir itu adalah ilusi.” (Hal 236)

Mungkin pembaca akan bertanya-tanya kenapa Nona Alien mau menulis surat panjang ini untuk Tuan Alien daripada mengungkapkannya langsung dengan Tuan Alien—entah melalui telepon atau surel/email.

“Dalam hal-hal instan, aku jarang menemukan perenungan. Begitu pula aku menyadari bahwa teknologi mematikan semangat perjalanan panjang, dan demikian mematikan esensi kehidupan.” (Hal 174)

Pada akhirnya, oleh Anak Tuan Pemilik Toko Buku, surat-surat itu diketikkan ulang dalam bentuk yang rapi dan dibundel jadi satu, untuk kemudian dikirimkan oleh seorang pengunjung toko buku kenalan Anak Tuan Pemilik Toko Buku kepada si Tuan Alien.

Beberapa hal yang sedikit mengganggu adalah adanya penegasan yang sedikit memaksa dari penulis bahwa ini adalah sebuah surat—yang memang harus tertulis.

“P.P.S: Kalau kau terlalu malas memutar rekaman itu, aku sudah menyatukan transkrip (dari rekaman dalam keping CD) dan menggabungkannya dengan ke-37 surat ini.” (Hal 8)

Membuat saya tak mengerti dengan apa yang diharapkan penulis dengan penuturan di surat pertama—bertanggalkan 24 Juli 2008—yang berjudul “Rekaman Suara dalam Keping CD”. Meskipun ditulis dengan cara yang luar biasa untuk menggambarkan sebuah mimpi utopian yang penuh dengan warna bernuansa kelam—sajian menarik di pembukaan novel yang langsung mencekat dan memberi kesan pertama ciamik pada pembaca—saya tetap tak mengerti kenapa penuturan yang menurut saya penuh dengan visualisasi itu dimasukkan dalam format bertitel “Rekaman Suara dalam Keping CD”.

Novel ini berjalan dengan datar dari awal sampai akhir. Kita dituntut untuk mengikuti penuturan Nona Alien dan mengikuti segala macam bentuk alur emosi yang dirasakannya terkait cinta dan kehidupannya. Meskipun begitu, surat panjang ini, memiliki kekuatannya sendiri yang membawa saya larut dalam kejenuhan dan kegamangan hidup Nona Alien.  Saya sebut “kekuatannya sendiri”, karena membaca novel ini sangat terkait dengan suasana hati pembaca. Jika suasana hati pembaca tak nyaman dengan nuansa depresif yang disampaikan melalui narasi panjang berbentuk surat-surat, tentu saja akan mengibarkan bendera putih. Saya, meskipun sempat jenuh di pertengahan, kekuatan narasi yang berkarakter dari penulis berhasil membawa saya ke sisi nyaman membaca novel ini sampai tuntas.

Untuk sang penulis,

Saya tahu, buku ini adalah titik awal, yang akan diikuti oleh karya-karyamu selanjutnya. Terlepas apakah nanti karyamu selanjutnya akan lebih baik dari buku ini atau tidak, saya tetap akan menjadi penggemar karya-karyamu.

Saya tetap menunggu bukumu selanjutnya, Panah Hujan.

——————————————————————————————————————————————

Tulisan ini adalah catatan subjektif menurut sudut pandang pribadi. Maaf jika tak rapi dan ada beberapa perbedaan interpretasi dengan “yang sebenarnya ingin disampaikan” penulis novel.

Akhirnya terbayar juga hutang review saya tahun 2013 lalu, sebagai penggemar karya-karyamu sejak kamu menulis di kemudian.com saya jadi malu sendiri karena baru bisa menulis ini setelah 1 tahun berlalu sejak buku pertamamu terbit. Tapi apapun alasan kesibukan saya yang klise, hutang ini tetap harus saya lunasi. Hehe.

Thank’s jika telah mampir untuk membaca review sederhana yang terlalu panjang ini.

Mungkin bulan Juni ini bisa jadi pengingat juga kalau buku ini sudah berusia 1 tahun. Selamat ulang tahun “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya”! 😀

Image Copyright: Ihya’s Smartphone.

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan “Sedikit Panjang” Tentang “Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya”

  1. FYI untuk pembaca yang lain.
    Novel ini juga adalah pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012. 🙂

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s