Incendies [2010]. Realita “Takdir Itu Kejam”.

Incendies

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah film berjudul “Incendies”. Setelah selesai menonton, saya merasa kalau film ini bukan film sembarangan–berdasarkan kesan yang saya peroleh setelah film ini selesai. Dan benar adanya, setelah searching sana-sini, rupanya film ini memang pernah dijagokan dan menang di berbagai festival.

“Incendies” adalah film Kanada produksi tahun 2010. Film ini disutradari dan ditulis oleh Denis Villeneuve. Diputar pertama kali di Venice and Toronto Film Festival pada bulan September 2010 dan dirilis di Quebec, Kanada pada 17 September 2010. Pada tahun 2011, “Incendies” dinominasikan memperoleh Academy Award untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Film ini berhasil memenangkan 8 penghargaan pada Genie Award Ke-31, untuk kategori Best Motion Picture, Aktris Terbaik (Lubna Azabal), Sutradara Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, Sinematografi, Editing, Overall Sound and Sound Editing. Film berdurasi 130 menit ini juga memenangkan The Best Feature Film pada Festival Film Adelaide 2011.

Film ini diawali dengan scene yang kelam. Adegan tanpa dialog yang memperlihatkan sekumpulan anak kecil yang sedang dicukur rambutnya oleh beberapa orang yang memegang senapan di sebuah rumah tak bertuan. Saya menyimpulkan setting saat itu berada di daerah Timur Tengah–berdasarkan tempat dan bentuk wajah orang-orangnya. Diiringi “You and Whose Army?”-nya Radiohead dan tatapan suram anak-anak kecil yang terbelit di tengah kelamnya konflik perang, opening scene ini sukses menghadirkan suasana suram yang seolah berbicara kepada saya, “Bersiap-siaplah nak, ini baru awalnya.”

Setelah opening scene tersebut, penonton akan dibawa ke tempat dan waktu yang lain–yang seperti tak memiliki hubungan sama sekali dengan opening scene. Disinilah awal dari kisah film ini. Dua bersaudara kembar, yaitu Jeanne Marwan (Mélissa Désormeaux-Poulin) dan Simon Marwan (Maxim Gaudette) memperoleh surat wasiat dari Ibunya, Nawal Marwan (Lubna Azabal) yang meninggal dunia karena sakit. Surat wasiat itu pada intinya menyuruh kedua anaknya untuk menyampaikan dua surat terakhir yang ditulis Sang Ibu sebelum meninggal, kepada Ayah dan Kakak Lelaki mereka berdua. Dalam hal ini Nawal adalah single parent selama mengasuh si Kembar. Si Kembar tak pernah mengetahui siapa Ayah mereka. Dan mereka juga tak pernah tahu kalau rupanya mereka memiliki Kakak lelaki. Wasiat dari Nawal juga aneh, selain menyuruh si Kembar memberikan surat kepada “2 anggota keluarga baru” mereka, Nawal juga meminta untuk dikuburkan dalam keadaan telanjang dan telungkup menghadap tanah, serta tak bersedia dipasangkan batu nisan di makamnya sampai kedua surat tersebut telah diberikan oleh si Kembar kepada kedua orang penerima yang dimaksud.

Nawal menjelaskan di suratnya bahwa dia memiliki “hutang janji lama” yang belum ditepati. Simon yang merasa surat wasiat itu terlalu mengada-ada kesal dan tak mau ikut melaksanakan wasiat Ibunya. Akhirnya, di tengah kebimbangan dan duka, Jeanne mencoba melaksanakan wasiat tersebut. Pencarian Jeanne terhadap Ayah dan Kakak lelakinya, membawanya ke daerah timur tengah, tempat kelahiran Ibunya dan tempat Ibunya menghabiskan hampir separuh dari hidupnya. Dalam pencarian itulah sedikit demi sedikit Jeanne menguak kisah suram Ibunya di masa lalu yang tak pernah dia tahu sebelumnya. Mulai dari kisah cinta Ibunya yang Nasrani dengan lelaki Muslim yang berakhir tragis, perpisahan Ibunya dengan anak lelaki pertamanya karena situasi dan kondisi yang sulit, perjalanan Ibunya mencari anak lelaki pertamanya yang hilang di tengah konflik Timur Tengah, depresi dan tekanan jiwa yang dialami Ibunya karena terpisah dengan sang buah hati, sampai kisah kelam Ibunya saat dijebloskan ke penjara karena membunuh salah satu tokoh politik. Pada akhirnya, Simon juga datang membantu Jeanne setelah mengetahui bahwa wasiat Ibunya rupanya tak sesederhana dan sekonyol yang dia sangka.

Yang menarik dari film ini adalah, sepanjang film kita akan disuguhi dengan teka-teki tentang masa lalu Nawal Marwan dan pergantian plot/alur yang silih berganti. Plot terbagi menjadi dua, yaitu Masa Kini (perjalanan Jeanne mencari Ayah dan Kakak lelakinya) dan Masa Lalu (perjalanan hidup Nawal Marwan). Uniknya, sang sutradara tak memakai petunjuk waktu (tanggal,bulan,tahun) selama transisi perpindahan plot/alur, tapi kita tetap tak akan sulit mengenali dua plot yang berbeda tersebut. Karena kita memperoleh petunjuk dari kondisi tempat dan perubahan fisik Nawal Marwan dari remaja sampai dewasa–salut untuk wardrobe dan make up yang rapi. Meski begitu, sutradara menggunakan petunjuk tulisan merah besar tiap terjadi pergantian plot. Tulisan merah tersebut rupanya merupakan keyword untuk memecahkan keseluruhan teka-teki masa lalu Nawal Marwan. Terkadang tulisan itu adalah nama orang seperti “Nihad”, terkadang nama tempat seperti “Daresh”, nama penjara “Kfar Rayat” atau nama sebutan seperti “Les Jumeaux” yang dalam Bahasa Perancis artinya Si Kembar.

Saya mencoba mencari kelemahan dari tiap aktor dan aktris yang bermain di film ini. Tapi saya tak menemukan celahnya. Sepanjang cerita, Lubna Azabal sebagai seorang Nawal Marwan, dengan segala kekelaman kisah hidupnya, berakting dengan pendalaman karakter yang kuat. Ekspresi kebingungan, kesedihan, keterkejutan, depresi dan kepedihan menahan berbagai guncangan hidupnya, semuanya tergambar apik di seluruh gestur tubuh dan mimik wajahnya.

Mélissa Désormeaux-Poulin dan Maxim Gaudette juga membangun chemistry yang kuat antara dua saudara kembar. Seringkali mereka berada dalam satu scene tanpa banyak dialog, dengan tatapan mata yang dalam antara keduanya, mereka seolah bisa saling memahami perasaan satu sama lain tanpa harus saling bicara satu sama lain. Scene saat mereka berdua berdialog “Mungkinkah 1+1 menghasikan 1” dan adegan mereka berdua berenang di kolam renang sepi saat malam hari menjelang ending adalah dua scene favorit saya yang melibatkan mereka berdua.  Kamu akan mengerti maksud saya kalau sudah menontonnya :mrgreen: . Aktor-aktor pendukungnya pun bermain dengan apik, sang pengacara, sang nenek, sang paman, dll. Bahkan aktris figuran yang menjadi resepsionis di Universitas Daresh saat Jeanne melacak masa lalu Ibunya yang pernah kuliah disitu pun ber-ekspresi bagus.

Ada satu fragmen menarik yang disisipkan dalam cerita ini, yaitu saat terjadi konflik di Timur Tengah–dalam hal ini saya menduga di daerah Lebanon. Konflik tersebut terjadi antara kaum Muslim dan Nasrani. Nawal Marwan yang Nasrani harus menghadapi segala permasalahan hidupnya di tengah konflik tersebut. Tetapi, setting politik tersebut tidak merusak inti kisah dari film ini. Film ini sanggup bertahan untuk tetap fokus pada alur ceritanya, tidak melebar ke arah politik meskipun setting cerita menggunakan kondisi politik Timur Tengah pada masa itu.

Standing ovation juga saya berikan untuk sinematografinya yang mumpuni. André Turpin sanggup menghadirkan suasana suram dan kelam sepanjang film ini. Dia berhasil mengambil angle-angle manis serta mengabadikan segelumit potret kehidupan masyarakat saat terjadi konflik yang menjadi latar kisah ini. Didukung dengan musik yang diolah oleh Grégoire Hetzel, pemilihan lagu dan sound yang mengiris hati berhasil bersinergi dengan poin-poin di dalam sinematografinya, menciptakan aura depresif sepanjang film ini.

Tak usah ditanya pula dengan screenplaynya. Kolaborasi Denis Villeneuve bersama Valérie Beaugrand-Champagne menghasilkan rentetan dialog yang cerdas, tak cengeng dan tak mendayu-dayu tapi tetap pilu dan sanggup menyayat hati. Analogi matematika yang dipakai Jeanne dan Dosennya saat berdiskusi tentang “Apakah aku harus melaksanakan wasiat Ibuku atau tidak?” menjadi salah satu dialog favorit saya di film ini. Tak ketinggalan juga dialog antara Jeanne dan Simon “Apakah 1+1 bisa menghasilkan 1?”, seperti yang saya tulis di atas, juga menjadi dialog favorit saya.  Dan masih banyak lagi dialog-dialog cerdas lainnya.

Kalau saya cermati, sebenarnya Denis Villeneuve telah menyisipkan titik-titik petunjuk untuk memecahkan puzzle dari misteri wasiat Nawal Marwan kepada Jeanne dan Simon dari awal cerita. Ketika saya mencoba menontonnya untuk yang kedua kali, ada poin-poin penting di tiap scenenya yang jika dirangkai menjadi satu akan menjadi jawaban yang ditampilkan di ending cerita. Untuk yang belum menontonnya, perhatikanlah setiap detail yang ditampilkan dalam tiap scene di film ini, karena setiap detail tersebut dibuat bukan tanpa tujuan sama sekali.

Perjalanan hidup seorang Nawal Marwan yang tersesat dan tak tahu kemana lagi harus berjalan, bukannya menemukan titik cahaya seperti pada cerita mainstream pada umumnya, tetapi malah dengan kejamnya di-bombardir dengan rentetan nasib buruk bertubi-tubi. Semua hal perwujudan dari realitas “Takdir itu Kejam” itu berhasil disajikan secara sempurna dalam “Incendies” tanpa mengada-ada dan tanpa bumbu yang berlebihan seperti sinetron Indonesia. Ah, saya tak sopan sekali, berani-beraninya membandingkannya dengan Sinetron Indonesia, perbandingan yang tak layak sama sekali, I’m sorry Villeneuve! :mrgreen: .

Di endingnya, tulisan merah besar “Incendies” pun muncul. Seperti maknanya dalam bahasa Perancis yang artinya “Api”. Incendies sukses membumi-hanguskan segala realita yang selama ini tercantum dalam pemahaman saya tentang hidup. Semua realita penuh kepalsuan itu dibakar habis oleh Incendies. Denis Villeneuve seakan ingin berbicara kepada saya, “Ini lho kehidupan yang sebenarnya. Sudahlah! Berhentilah melamun!”.

———————————————————————————————-

Sumber Ilustrasi: Link

Iklan

2 pemikiran pada “Incendies [2010]. Realita “Takdir Itu Kejam”.

  1. lumanyun juga filmnya bro

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s