Too Much Love Will Kill You [Prompt #15]

Credit

Nay,

Aku tak mampu menghadapi semua ini lagi. Aku telah kalah oleh kehidupan yang hitam. Aku menyerah dalam semua kepenatan ini.

Maaf Nay. Kumohon, tetaplah bertahan.

Pada akhirnya nanti, kita akan berjumpa lagi. Percayalah. Di ujung perjalanan, di saat semuanya sudah berakhir, kita akan bersatu di dunia yang lebih baik.

Selamat tinggal Nay.

Arya.

Untuk terakhir kalinya, Naya menatap sepucuk kertas di tangannya. Tangannya bergetar. Hatinya sakit, serasa teriris sembilu. Matanya tak sanggup menahan air mata yang sedari tadi tertahan. Tertahan oleh ribuan rasa ngilu, sakit, pedih dan kegetiran yang terburai mengaduk-aduk perasaannya.

Naya berjalan gontai. Dimasukkannya kembali selembar surat terakhir dari Arya ke dalam tasnya. Kemudian, perlahan, langkah gontainya berubah tegap. Dengan pasti dia melangkah, menuju pintu terakhir, tempat dia akan menyelesaikan akhir dari semua kegetiran yang merenggut senyumnya selama dua tahun terakhir. Dengan mata nanar dia menatap  pintu yang ada di hadapannya.

****

“Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini?!” Hengki meremas dadanya erat. Darah segar membanjir, warna merahnya merusak warna putih bajunya.

Terseret-seret dia merangkak, menjauh dari iblis yang ada di depannya. Di mata Hengki sekarang yang terlihat hanya iblis. Iblis dengan pistolnya yang memuntahkan timah panas–yang telah bersarang di dadanya.

“Kenapa? Kau tanya kenapa? Hahaha,” Naya tertawa getir. Sorot matanya penuh dengan kebencian dan menumbuhkan kengerian.

Hengki bergetar, wajahnya tegang dipenuhi keringat dingin.

“Kau ingat pasienmu dua tahun yang lalu? Arya Satyadharma?” Naya mendekat ke arah Hengki yang tergeletak bersimbah darah di sudut ruangan.

“Arya? Arya Satyadharma?”

“Arya Satyadharma. Pasien yang dengan lugasnya kau vonis mengidap HIV.”

“HIV? Arya? Tunggu? Apa maksudmu?”

Naya menembakkan satu lagi timah panas ke kaki kanan Hengki.

“Aarrggghh!! Hentikan!! Aku ingat! aku ingat!!”

“Aku ingat…. Arya, lelaki berkacamata itu. Kenapa dengan dirinya?! Apa salahku?! Aku hanya dokternya! Aku hanya berkata apa adanya!” Napas Hengki tersengal-sengal. Mencoba menggali ingatan dalam keadaan seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan.

“Kau sebut dirimu dokter?! Berkata apa adanya?!! Bajingan kau!!” Naya menembak kaki kiri Hengki.

“Arrrgghh!!!” Erangan menyakitkan keluar dari mulut Hengki.

“Sungguh!! Aku benar-benar tak tahu apa salahku?! Apa hubungannya dengan Arya Satyadharma?!”

“Kau. Dengan vonis palsumu itu. Kau telah membunuh Arya!!!”

“Membunuh?!! Vonis palsu?!”

“Iya, vonis palsumu. Diagnosamu salah. Diagnosamu tentang HIV yang ada di tubuh Arya salah!!” Air mata kepedihan mengalir di pipi Naya. Diarahkannya moncong pistolnya ke arah Hengki.

“Tidak!! Bagaimana mungkin aku salah! Bagaimana mungkin?!”

“Bagaimana mungkin?! Masih bisanya kau percaya diri dengan kemampuanmu setelah menyebabkan hilangnya satu nyawa manusia?! Biadab kau!!”

Doorrr!!!

Tembakan terakhir Naya mengakhiri pertikaian di ruangan pucat itu. Hengki tergeletak bersimbah darah. Timah panas yang menembus kepalanya menghentikan segala upayanya untuk mencari jawaban.

“Dok, dok!! Ada apa dok!! Dok! Buka pintunya!!” Suara perawat menggedor-gedor pintu. Naya bergeming.

Suara tembakan terakhir. Pintu ruangan yang didobrak paksa terbuka.

Para perawat menjerit, mendapati dua tubuh bergelimang darah di hadapan mereka, yang wanita memegang pistol di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang foto seorang lelaki berkacamata.

****

“Aku seharusnya bisa mencegah ini semua…” Rendra menatap pusara di depannya dengan suara bergetar.

“Ini bukan salahmu Mas,” Dian bersandar pada lengan suaminya.

“Tidak, ini salahku. Ini salahku!!”

“Mas, sabar mas…”

“Aku seharusnya lebih memperhatikan adikku. Aku kira dua tahun di rumah sakit jiwa dapat mengembalikan kesehatan mentalnya. Rupanya aku salah, dia masih tak mampu menerima kematian Arya. Dia masih menganggap bahwa Arya adalah korban malpraktik. Depresinya karena kegagalan menjadi dokter, diperparah dengan kematian kekasihnya, Arya, dua tahun lalu. Luka yang tak semudah itu bisa disembuhkan selama dua tahun. Aku seharusnya tahu, aku seharusnya lebih peka…”

“Selain itu, aku juga ceroboh meletakkan pistolku usai pulang bekerja… Sungguh, kakak tak berguna!”

___________________________

Ditulis untuk MondayFlashFiction

Iklan

2 pemikiran pada “Too Much Love Will Kill You [Prompt #15]

  1. Jadi si Naya ini gila? :O

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s