Desa Berselimut Salju [Prompt #14]

Hawa dingin menembus celah-celah jaketku. Aku menggigil sedikit sembari merapatkan jaket. Masih kususuri jalan setapak ini, ditemani saljuyang entah bagaimana seperti tak ada habisnya turun ke desa ini.

Hari kesepuluh, masih tak ada petunjuk apapun tentang Keluarga Rasmussen. Keluarga keturunan bangsawan dari Trondheim itu dikabarkan telah mengungsi ke desa inipasca kerusuhan yang terjadi di Trondheim beberapa bulan lalu.

Dua minggu yang lalu aku memperoleh kabar kalau keluarga itu menghilang lagi, tapi kali ini menghilang dengan cara yang ganjil. Tak seperti saat mereka meninggalkan Trondheim, barang-barang penting dan perabotan mereka masih utuh di rumah baru merekayang ada di ujung desa ini. Bukan tanda-tanda orang yang menghilang karena mengungsi.

Dingin yang tak nyaman ini membuatku ingin segera kembali ke penginapan dan meringkuk di balik selimut tebal. Kupercepat langkahku. Tiba-tiba aku berhenti, kulihat sebuah bangunan dengan papan nama usang bergambarkan tiga katak. Oh, kenapa aku tak mampir dulu kesini, bukankah ini bar Tuan Sebastian?orang tua yang tempo hari sempat aku temui di dekat rumah Rasmussen. Mungkin segelas vin atau varm sjokolade bisa menghangatkan hawa dingin malam ini.

****

“Sebaiknya kau tak usah mengurusi keluarga aneh itu, mester Hans.” Sebastian berbicara sambil menuangkan anggur yang kupesanrupanya disini tak ada cokelat panas.

“Tapi ini sudah kewajiban saya untuk menyelesaikan kasus client.”

“Memang siapa client Anda?”

“Salah seorang kerabat dari Tuan Rasmussen. Yah, hal yang berhubungan dengan warisan dan seperti itu. Anda tahu kan? Rasmussen memiliki beberapa aset berharga. Cukup untuk membuatmu hidup tanpa bekerja sampai ajal menjelang.”

“Ah, rupanya ini semua tentang harta.” Sebastian tersenyum sinis sambil mengatur letak beberapa botol anggur di rak.

“Begitulah. Saat seseorang meninggal, sebutlah saat ini keadaan Rasmussen seperti itu. Dan dia kaya. Tiba-tiba akan banyak orang mengaku kerabatnya.”

“Tapi, kau sudah berjalan terlalu jauh mester Hans. Kau tak boleh melangkah lebih jauh.”

“Apa maksudmu Sebastian?”

“Terkadang, ada hal-hal yang perlu kau tahu dan kau selesaikan. Tapi, ada juga hal-hal yang mungkin lebih baik kau tak mengetahuinya.”

“Tunggu Sebastian. Kau sepertinya tahu sesuatu. Kenapa kau tak memberi tahu aku tempo hari saat kita bertemu?”

“Aku tak bisa membantu banyak mester Hans. Terlalu banyak mata yang melihat.”

Dahiku berkerut. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada sedikit orang di bar ini. Tak lebih dari lima orang. Mereka orang-orang tua bersorot mata damai. Tapi entah kenapa tengkukku terasa dingin, kunaikkan kerah jaketku.

****

Aku kembali menyusuri jalan setapak bersalju. Sembari berpikir tentang ucapan Sebastian di bar tadi.

Kkkrraaakkk!!!

Tiba-tiba ada suara kayu berderak di balik sebuah rumah. Rasa penasaran membuatku ingin memeriksanya. Aku berlari ke arah suara itu.

Seorang anak kecil berambut cokelat tergeletak.

“Hei, kau tak apa-apa?!” Aku berjalan menghampiri dia, mencoba membantunya duduk.

Anak kecil itu berbaju compang-camping dan lusuh.

“Lari! Lari!”

Mata nanarnya menatapku tajam. Seakan ada dewa kematian yang mengejar-ngejar dirinya. Tubuhnya menggigil hebat. Tangannya sedingin es.

“Hei, tenanglah! Ayo, ikut aku ke penginapan. Nanti kau bisa ceritakan padaku apa yang terjadi.”

“Tidak! Tidak!” Dia meronta hebat. Tangannya terlepas dari genggamanku. Sambil terseok-seok dia mencoba berlari.

“Hei! Tunggu!”

“Lari! Lari!” Dia berteriak serak. Suara yang sarat dengan kengerian.

Brraakkk!

Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Pandanganku terbiaskan oleh salju. Terang sesaat, lalu tiba-tiba menggelap. Yang terakhir aku sadari sebelum semuanya gelap, sakit yang amat sangat di belakang kepalaku. Benda tumpul apapun itu yang menghantam tengkukku, telah berhasil menghilangkan kesadaranku.

****

“Sial! Bagaimana bisa kau kehilangan si Rasmussen kecil itu?”

“Maaf. Si Bocah itu rupanya gesit juga. Dia pintar bersembunyi.”

“Untunglah kau bisa bertindak cepat sebelum lelaki ini tahu banyak.”

“Sekarang kita apakan dia?”

“Bangunkan. Siram dia!”

Byuuurrrr.

Kepalaku masih terasa pening. Segelumit cahaya terang mulai memasuki mataku.

“Arrghhh…”

Setelah kesadaranku mulai kembali. Aku menyadari sedang berada di sebuah ruangan bercahaya lampu termaram, dengan tali tambang yang mengikat tubuhku yang terduduk di kursi.

“Hei mester Hans.” Lelaki di depanku menepuk pundakku.

 “Sebastian?!” Aku menatap tajam ke Sebastian yang ada di depanku. Lalu pandanganku beralih ke orang di sebelahnya.

“Apa apaan ini?!”

“Aku kan sudah bilang padamu mester Hans. Ada hal yang perlu kau tahu, ada pula hal yang tak perlu kau tahu. Tapi kau masih saja berulah dengan rasa ingin tahumu itu.”

“Hei. Aku tak mengerti. Ada apa ini?! Oh tunggu! Rasmussen! Kau pasti tahu apa yang terjadi dengan Keluarga Rasmussen! Sial! Aku seharusnya sudah tahu hal ini! Kau menyembunyikan sesuatu!”

Krrieettt. Pintu di ujung ruangan terbuka. Muncul tiga orang berjalan ke arahku. Hei, aku tahu mereka. Tuan Tobiassi kepala desa, Lucas dan Magnus. Mereka penduduk desa ini.

“Bukan hanya Sebastian. Tapi lebih tepatnya adalah kami semua, mester Hans. Kami, penduduk desa ini.” Tuan Tobias melangkah ke hadapanku.

“Aku tak mengerti.” Aku menatap bingung ke mereka semua.

“Desa terpencil berselimut salju ini. Tak tersentuh dunia luar. Kami hidup damai disini. Tapi rombongan Rasmussen brengsek itu membuat onar dengan datang ke desa ini. Nama besarnya membuat desa ini menjadi sorotan banyak manusia. Banyak orang mulai berdatangan ke desa ini.”

“Apa yang hendak kau ceritakan sesungguhnya Tuan Tobias?!” Aku merasa makin tak nyaman.

“Kami tak ingin kalian merusak kedamaian desa kami.”

Aku mengerutkan dahi. Bingung.

“Pergilah kalian para manusia!”

Tiba-tiba mata Tuan Tobias berubah menjadi merah menyala. Tubuhnya membesar, gigi taring besar keluar dari mulutnya. Kukunya memanjang. Suara geraman yang mengerikan keluar dari mulutnya.

______________________________________________________________________________

Keterangan Bahasa Norsk

vin: anggur

varm sjokolade: cokelat panas

mester: Tuan

Iklan

28 pemikiran pada “Desa Berselimut Salju [Prompt #14]

  1. aih, keren! tp iya ini terlalu panjang menurut saya, hampir saja saya ga nerusin bacanya, tp di tengah2 mulai terasa menarik, dan endingnya bikin saya kaget! mungkin bisa mulai langsung ke konfliknya, mas.

    • iya sih, saya masih bingung gimana mangkas cerita ini.
      Soalnya kalau saya pangkas, misalnya pada bagian deskripsi tempat dan lingkungan desa itu. Nanti bisa berkurang atmosfer “dingin”nya desa itu.
      Saya punya kelemahan dalam kemampuan “to the point” ke konfliknya mbak. Masih perlu banyak belajar dan jam terbang. Hehe :mrgreen:

  2. ehm, sepertinya ada nama yg typo ato saya yang siwer yah? yang pasti saya masih bingung mbca critanya 🙂

  3. ini, settingnya di mana ya? Jerman? Finlandia? Atau kisah bangsa Viking? Saya ga tau Bahasa Norsk itu dipakai bangsa apa. hehe
    tapi bagian awalny bisa dipangkas tuh, biar ga kepanjangan. 🙂

    • Settingnya sebenarnya di daerah Norwegia.
      Trondheim itu salah satu nama kota besar di Norwegia.
      Iya sih, saya masih bingung gimana mangkas cerita ini.
      Soalnya kalau saya pangkas, misalnya pada bagian deskripsi tempat dan lingkungan desa itu. Nanti bisa berkurang atmosfer “dingin”nya desa itu.
      Saya punya kelemahan dalam kemampuan “to the point” ke konfliknya mas :mrgreen:
      Masih perlu jam terbang nih.

    • ngga penting juga ini daerah mana. bahkan jika tempat dan bahasa Norsk itu hanya khayalan belaka.

      yang jelas memang kepanjangan.

  4. Ah, rupanya Hans terjebak di desa kerabatnya Jacob si manusia serigala ya. Nice story.

  5. ceritanya masih kepanjangan untuk FF . ceritanya Ok sih

    • Iya, saya juga masih ngerasa kepanjangan. Hehe
      Tapi, cerita ini jumlah katanya masih kurang dari 1000 kata kok. Jadi masih bisa disebut FF.
      Menurut Wikipedia sih FF itu kurang dari 1000 kata. :mrgreen:
      Tapi mungkin klo untuk MFF saya sebenarnya ga tahu patokan minimalnya berapa kata :mrgreen:

      • Klo di mff max 500 kata. Hayooo ketauan ya pas baru gabung ga baca2 link yg dikasih mak carra?? :p

        • Aduh jadi malu klo saya ga teliti baca semua peraturannya :mrgreen:
          Oke, next FF nanti saya coba padatkan lagi.
          Yang FF ini kaya’nya susah dipangkas, hehe

  6. Kok keren bgt yak ada bahasa Norsk segala… aku tunggu cerita lanjutannya ya bang sepertinya seru klo dijadikan novel atau minimal cerbung atau cerpen :3

  7. oh ini pakai bahasa norwegia, bberasa ada di sana ehehe 🙂 keren ceritanya menarik, cuma kepanjangan ehehe

  8. ceritanya keren tp emang agak kepanjangan kl buat FF…jadiin cerpen aja 😀

    • Iya nih, FF kali ini, saya terlalu jauh bangun narasinya, jadi kepanjangan deh.
      Mungkin suatu hari nanti akan ada cerpen dari cerita ini, hehe :mrgreen:

  9. Mas apa mbak ini yah…. boleh kasih masukan… tulisan Blognya di perkecil dan sedikit di rapikan… Bisa :D… biar aku enak bacanya… hehehehe . Semangat yah menulis 🙂

  10. kayaknya mas yusrizal suka banget pake bunyi-bunyian. Brak, kriett 😆 Itu ga perlu mas dalam FF 😉

    dan iya. ini bisa diperpendek 😉 tanpa mengubah jalan cerita, apalagi endingnya udah ngetwist.

    • Oh, bunyi bunyian itu bisa dikurangin ya mbak?
      Tapi nanti takutnya mengurangi atmosfer suasana yang sedang terjadi? Atau gimana ya?
      Hehe, maklum masih perlu nambah jam terbang. :mrgreen:

  11. kenapa aku jadi gatel nge remake ya? 😆

    • Silakan banget untuk di-remake mbak 🙂
      Saya buntu mau memperpendeknya gimana.
      Jadinya malah cenderung ke cerpen, haha

  12. Banyak juga yang ngambil isu manusia serigala FF kali ini. Hehehe

    Agak cukup panjang ya. Saya bayangin tokoh utamanya kayak dtektif Kindaichi 😀

    • Hehe, kalau Kindaichi yang jadi tokoh utama disini, malah ngelawak aja dia nanti, si Hans disini cenderung orang yg serius :mrgreen:

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s