Bapak Pemilik Warung [Prompt #13]

Arya terhenyak, tak menyangka harus menghadapi situasi seperti saat ini. Mobilnya mogok entah kenapapadahal bensin masih penuh. Di sebuah jalan yang sepi dan gelap dengan hutan di kanan kirinya.

Setelah setengah jam menunggu tak ada kendaraan yang lewat dan malam pun semakin larut. Akhirnya Arya mencoba berjalan menyusuri jalan itu setelah mengunci mobilnyasiapa juga yang mau mencuri mobil mogok di pinggir jalan sepi seperti ini. Arya berpura-pura tak memperhatikan gelapnya hutan di sebelah kanan dan kiri, sambil bersiul-siulmencoba menghibur diri.

Setelah sekitar satu kilometer berjalan, Arya melihat cahaya dari sebuah rumah kecil di pinggir jalan.

Siapa yang tinggal di jalanan sepi seperti ini?!

Meskipun merasa janggal, Arya mendesah lega. Minimal ada tempat bermalam, sambil menghemat tenaga dan memikirkan solusi untuk mobilnya esok pagi.

Setelah dekat, Arya baru sadar, rupanya rumah itu merupakan warung. Mungkin merupakan tempat melepas lelah dan dahaga untuk orang-orang yang menempuh perjalanan lewat jalan ini.

“Permisi. Selamat malam.” Arya mendekat masuk ke dalam warung yang pintu depannya masih terbuka itu.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Arya dari belakang.

“Waaaa!!!” Arya terlonjak ke belakang karena terkejut.

Seorang bapak tua berambut putih berada di depannya.

“Hei, tak perlu kaget.” Bapak tua itu berbicara. Suara yang berat dan tegas.

“Oh, eh. Iya. Maaf Pak, saya kira tadi siapa. Bapak siapa? Bapak yang punya warung ini?” Arya tergagap mencoba menenangkan diri.

“Iya, saya Pak Trisno. Saya yang tinggal disini. Yang punya warung ini.”

“Bapak sendirian tinggal disini?”

“Biasanya ama anak saya, tapi hari ini dia sedang pergi. Kamu ada apa malam-malam gini ke warung saya? Saya ga lihat kamu bawa kendaraan.”

“Saya tadi dalam perjalanan ke kota tetangga Pak. Tapi mobil saya tiba-tiba mogok di tengah jalan, di tikungan sekitar satu kilometer dari sini. Saya ga tahu rusak apanya. Lalu saya jalan dan nemu warung Bapak ini.”

Pak Trisno menatap Arya dingin. Entah karena apa, tapi pandangan Pak Trisno membuat Arya merasa tak nyaman.

“Saya boleh numpang bermalam disini ga Pak? Besok pagi saya akan periksa mobil saya lagi, soalnya malam-malam gini saya ga kelihatan meriksa mesinnya.”

“Nginep? Disini?”

“Iya Pak, kalau Pak Trisno ga keberatan.”

“Saya sih ga keberatan. Tapi tempatnya ya kaya’ gini. Kamu ga masalah? Kasurnya cuma ada satu di dalam.”

“Oh tenang aja Pak. Ga pa pa. Saya kan bisa tidur disini juga.” Kata Arya sambil menunjuk kursi panjang dari bambu yang ada di sudut warung.

Pak Trisno masih menatap dalam ke mata Arya. Arya merasa sedikit janggal. Pak Trisno seperti sedang menggali-gali isi hati Arya, mencari tahu tentang sesuatu yang Arya sendiri juga tak memahaminya.

“Ya sudah kalau begitu. Kalau ga masalah buat kamu. Silakan saja isitirahat disini.”

“Makasih banget Pak. Makasih…” Arya hendak menjabat tangan Pak Trisno, tapi Pak Trisno tak menggubrisnya dan langsung berbalik masuk ke dalam warung. Arya hanya bisa menggaruk-garuk kepala merasa kikuk.

Pak Trisno ini aneh juga. Tapi tak apalah. Yang penting aku tak sendirian menghabiskan malam di jalanan sepi yang mengerikan ini.

Arya pun merebahkan diri di kursi bambu di sudut warung.

****

“Pak, Bapak!!” Naya mengetuk keras pintu warung Ayahnya.

Pak Trisno terbangun dari tidurnya. Setelah mengumpulkan kesadaran sejenak, dia berjalan dan membuka pintu warungnya.

“Naya?! Katanya kamu mau pulang siang?”

“Lho, Bapak baru bangun ya? Udah jam 11 gini, tumben Bapak bangun siang?”

“Jam 11?” Pak Trisno melihat jam di warung.

“Ya Tuhan. Waktu berjalan cepat sekali rupanya,” Pak Trisno terheran-heran.

“Pak, tadi waktu Naya dalam perjalanan kesini, Naya lihat ada kecelakaan di deket sini. Banyak polisi yang lagi meriksa TKP.”

“Kecelakaan?”

“Iya Pak. Kecelakaan mobil.”

“Mobil? Dimana?”

“Di tikungan sekitar satu kilometer dari sini Pak.”

Pak Trisno mengerutkah dahi, “Terus gimana korbannya?”

“Korbannya udah meninggal Pak. Cuma satu orang. Laki-laki. Rupanya kecelakaannya itu tadi malam Pak. Mobil itu menabrak pembatas jalan. Kaya’nya sih kenceng banget. Kata polisi, remnya blong.”

“Tunggu, kamu bilang laki-laki? Tikungan? Satu kilometer dari sini? Mobil?”

Pak Trisno terhenyak. Dia menoleh ke kursi bambu di sudut warung. Tak ada siapapun disitu.

Iklan

20 pemikiran pada “Bapak Pemilik Warung [Prompt #13]

  1. Eta demit nyah, serem euy. Hih.

  2. hehehehehe bisa jadi dia, bisa jadi bukan yah :D. yang aneh bapaknya, eeeeh, yang tersangka hantu malah si aku 😀

  3. wih mantep. perpindahan PoV nya mantep. he? bener kan yah istilahnya begitu 🙂

    • Sebenarnya saya bermaksud make PoV orang ketiga. Jadi ga ada perubahan PoV sepanjang cerita ini.
      Tapi mungkin karena ada kalimat ini:
      “Pak Trisno ini aneh juga. Tapi tak apalah. Yang penting aku tak sendirian menghabiskan malam di jalanan sepi yang mengerikan ini.”

      Makanya kelihatannya kaya’ pake PoV orang pertama ya? Hehe.
      Kalimat itu sebenarnya adalah dialog monolog di dalam hati Arya.

  4. Kerenn..
    Kirain si bapaknya yang hantuu
    Salam Mas

  5. Di mana hantunya?

    Kayanya si Arya ga jadi tidur, lalu kembali ke mobilnya yang ujug-ujug bisa jalan. Karena ngantuk dia ga sadar terlalu semangat menginjak gas dan mobilnya lompat lalu menabrak pembatas jalan…

  6. haha..beran aku tertipu…kirain penjaga warungnya yang hantu..
    taunya si Arya yang udah meninggal.

  7. kereeeeeeeeeen di endingnya ternyata tokoh utamanya ternyata jadi hantu, akkk aku sukaaaa

  8. aish,,,untuk bacanya buka semalem..hehe

    Untung Aryanya ga ngomong “demi tuhan”… hihi

  9. ehh.. serem juga baca cerita beginian malem2 *smoga tetep bisa tidur nyenyak malem ini

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s