Konde [Prompt #12]

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul.

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Konde itu lalu terjatuh dari meja rias yang berada di samping tempatku berdiri dan menggelinding ke kakiku. Kuambil konde itu dan kuamati baik-baik. Konde siapa ini? Lalu kualihkan pandanganku ke sekitar.

Hei tunggu, bukankah ini rumahku? Tak salah lagi ruangan ini adalah kamarku. Ranjang tempat tidurnya, lemari kuno, lukisan di sudut kamar, dinding, jendela dan langit-langit kamar ini persis seperti kamarku. Meskipun baru tiga bulan menempati rumah kuno ini, ciri khas bangunan rumah ini sudah melekat erat di ingatanku.

Hanya meja rias yang menjadi petunjuk pembeda kamarku dan kamar ini. Aku seperti berada di kamarku tapi bukan kamarku. Ah, aku semakin bingung.

Yang paling tak kumengerti adalah kenapa tiba-tiba aku ada disini? Bukankah tadi aku sedang berada di gudang?

“Hiiiksss, hiiikksss, huuuu… Hiikkss hiiikss huuu….”

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara tangis seorang wanita. Aku baru tersadar, ada seorang wanita memakai baju kebaya pernikahan sedang terduduk di sudut ruangan. Mungkin karena sedang asyik dengan kebingungan yang berkecamuk di kepalaku, aku tak menyadari keberadaan wanita itu. Aku berjalan perlahan mendekati wanita itu─masih dengan konde di genggamanku.

“Mbak, ada apa mbak? Kenapa menangis?”

“Hiiikkss hikkss huuuu….” Wanita itu masih menangis tersedu.

“Mbak, mbak, ada apa?”

Ketika sudah dekat, kucoba meraih pundaknya. Hei! Apa yang terjadi?! Kenapa tanganku cuma menembus tubuhnya? Aku terhenyak, keringat dingin menjalari tengkukku.

Brakk! Brakkk!! Brakkk!!!

“Marni! Buka pintunya Marni!! Rombongan mempelai pria sudah datang!! Marni!!”

Suara pintu kamar yang digedor mengejutkanku.

Wanita yang ternyata bernama Marni itu masih menangis dan melihat sebuah liontin di genggaman tangannya. Aku bergerak ke sampingnya dan kulihat foto hitam putih seorang laki-laki.

“Marni hanya mencintai Mas Karno. Marni ga mau nikah ama Pakde Jarwo.”

Marni bangkit berdiri, kemudian berjalan ke meja rias, menggeser kursi riasnya ke tengah, tepat di bawah lampu gantung dari besi yang ada di langit-langit kamar. Marni mengambil sebuah tali dari bawah tempat tidurnya. Kemudian mengikatkan sebuah simpul ke lampu gantung tersebut.

“Hei! Hei! Marni! Mau apa kamu!!” Aku mulai panik, berharap semoga Marni tak melakukan sesuatu seperti yang terbersit di dalam kepalaku.

“Marni!! Buka pintunya Marni!!!” Braakk!! Braakk!!!

“Marni!! Jangan bodoh Marni!!” Kucoba merengkuh kaki Marni yang telah berdiri di atas kursi, meskipun aku tahu percuma.

“Mas Karno, aku mencintaimu Mas….”

Gedubrak!! Kursi rias itu terjatuh setelah ditendang Marni.

“Marni buka pintunya Marni!!!” Braakk braakk brakkk!!!

Suara gedoran pintu kamar semakin keras memekakkan telinga. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

****

“Papa!! Mama!! Mbak Naya udah sadar!!” Suara adikku Arya menjadi suara pertama yang kudengar ketika tersadar dari pingsanku.

“Naya!! Naya!! Syukurlah nak, akhirnya kamu sadar juga.”

Papa dan Mama datang bersamaan ke arah tempatku berbaring.

Sambil mengerjapkan mata, kulihat sekeliling. Aku masih berada di kamarku rupanya. Tapi, dimana meja rias itu? Dimana Marni? Dimana tali yang tergantung di lampu gantung?

Aku mulai menyadari sesuatu.

“Arya? Apa yang terjadi tadi? Kok aku tiba-tiba ada disini?”

“Mbak Naya tadi tiba-tiba pingsan waktu kita sedang di gudang. Sebelum pingsan, Mbak tadi sempat kejang-kejang dulu sambil megang erat konde ini.” Arya menunjuk konde yang ada di samping tempat tidurku.

“Konde ini sepertinya peninggalan rumah ini Nay. Kamu tadi nemu konde ini di gudang kan?” Ayah menimpali.

Aku cuma terdiam. Mencoba mengambil kesimpulan dari segala hal yang berkecamuk di kepalaku. Dan akhirnya aku tahu apa yang harus aku lakukan.

“Pa. Naya tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Maksud kamu Nay?”

“Naya tahu suara tangis siapa yang sering kita dengar tiap tengah malam di rumah ini Pa.”

Iklan

19 pemikiran pada “Konde [Prompt #12]

  1. hemmm…. sereeeemmm….

  2. Waktu baca paragraf pertama saya sudah mau protes aja, “kok si aku ini ga sadar ada di mana?” “Kok ada pengantin?” (dasar pembaca yang tak sabaran) baca endingnya bikin saya angkat dua jempol.. Ini fiksi mini yang sangat komplit, Mas 😀
    Salam

    • Hehe, saya juga pernah ngalamin momen “ga sabaran” saat baca buku mbak, tangan rasanya gatel pengin cepet2 buka halaman akhirnya. :mrgreen:

      Untungnya ini cuma cerita mini ya, jadi bisa cepet2 meredakan emosi pembacanya yang gatel dengan pertanyaan2 yang belum terjawab :mrgreen:

      Thank’s udah mampir 🙂

  3. ceritanya oke, tapi agak mudah tertebak sih ya mas. Pas bagian dia menembus si Marni tapi Marni tetap tidak memedulikan, langsung ‘ngeh’ ini pasti si aku yg kaya bayang2. kaya Harry masuk pensive 🙂

    • Hehe, saya sebenarnya memang bukan penulis yang mengagungkan Unpredictable Ending. Yang terpenting adalah gimana cara saya membungkusnya menjadi cerita yang sesuai dengan visi saya, dengan tetap memperhatikan hak para pembaca agar bisa memahaminya :mrgreen:
      Thank’s udah mampir 🙂

      • #angguk2
        Berarti mas suka pakai ending tertutup, ya? 🙂

        • Hmm, aku kurang ngerti ending tertutup itu yg kaya’ gimana, hehehe :mrgreen:

          Yang jelas saya suka menyalurkan apa yang ada di pikiran saya menjadi bentuk tulisan. Terlepas nanti mau bikin ending yang kaya’ gimana :mrgreen:

  4. aku nebak 2 kemungkinan. pertama kirain yang mati itu ya si– aku itu. kedua, si-aku itu cuma jd perantara sebuah rahasia. eh salah semua ya? *Loh* keren sekali. harus bnyk bljr nih aku *geleng2*

  5. ceritanya keren, enak bacanya. Cuma rada2 serem 🙂

  6. idenya keren.. tapi serem. hikz.. prompt ini kenapa temanya jadi horor yah. 😀

  7. mantab mas…jadi inget suara tangisan belakang rumah yg tiap malam kedengaran 😦

    • wah, tiba-tiba saya jadi merinding setelah baca komen ini. 🙄 *langsung meringkuk di dalam selimut

  8. keren *bergayasekalemmbaklatree *ditimpuksendal 😀

  9. Sebenernya yang awal itu rada bingung, soalnya nggak disebutin dia lagi di gudang, tau2 langsung “Hei tunggu, bukankah ini rumahku? Tak salah lagi ruangan ini adalah kamarku.” Itu aja sih, ceritanya udah bagus, bikin merinding malah 😀

    • Thank’s mbak kunjungannya 🙂
      Kebingungan-kebingungan pembaca di awal cerita kan terjawab satu persatu di paragraf-paragraf selanjutnya, hehe :mrgreen:

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s