Ibu Kita Kartini. Ibu kita? Ibu kamu? Ibu saya?

votes-for-women

Two days ago is Kartini Day, yesterday is Earth Day, today is World Book Day. Give me a day with my name too!

Haha, suatu hari nanti kalender sepertinya akan kehabisan tempat untuk menampung peringatan-peringatan hari baru yang muncul. Hampir segala sesuatu di dunia ini bisa dijadikan hari, ada hari Ibu, hari Wanita, hari Bumi, hari Air Sedunia, dll. Maaf saya ngelantur kemana-kemana, tulisan kali ini sebenarnya tidak membahas tentang fenomena di atas. 😀

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 21 April, kita tahu bahwa bangsa Indonesia memperingati hari dimana disebut oleh banyak orang sebagai hari Kartini. Lalu, tiba-tiba terbersit di kepala saya, salah satu penggalan lagu nasional kita,

“Ibu kita Kartini. Putri Sejati. Putri Indonesia. Harum namanya….”

Ketika saya mulai mencermati lagu tersebut. Saya mulai sadar. Ada hal yang sepertinya tidak klop dengan pemikiran saya.

Berikut ini lirik lengkapnya:

Ibu kita Kartini. Putri sejati. Putri Indonesia. Harum namanya

Ibu kita Kartini. Pendekar bangsa. Pendekar kaumnya. Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini. Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya. Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini. Putri jauhari. Putri yang berjasa. Se Indonesia

Ibu kita Kartini. Putri yang suci. Putri yang merdeka. Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini. Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya. Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini. Pendekar bangsa. Pendekar kaum ibu. Se-Indonesia

Ibu kita Kartini. Penyuluh budi. Penyuluh bangsanya. Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini. Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya. Bagi Indonesia

Sekali lagi, ini hanyalah pendapat personal saya. Lirik lagu di atas seperti hanya sebuah pemujaan terhadap ikon. Bagi saya, yang terpenting bukanlah ikon-nya, tapi esensi dari apa yang dilakukan Kartini tersebut. Bukan bermaksud merendahkan W.R.Supratman sang penulis lagu, tapi memang begitulah yang tertangkap dalam pemikiran saya.

Lalu, didorong karena segelumit hal yang tak klop di atas saya iseng menulis query di Google, saya mengetik “Mengapa harus Kartini?”. Rupanya ada beberapa tulisan yang saya anggap menarik membahas tentang Kartini.

Saya akan jelaskan secara ringkas tentang apa yang saya tangkap dari artikel-artikel yang saya baca ituringkas? Padahal jadinya panjang juga, hahaha.

Jadi, sebenarnya nama Kartini dikenal luas karena surat-suratnya. Iya kan? Dari saya SD dulu, memang yang diajarkan guru saya tentang Kartini selalu berputar-putar di sekitar surat-surat Kartini.

Surat-surat Kartini tersebut sebenarnya adalah surat-surat yang dia kirimkan kepada sahabat-sahabat Eropanya. Kemudian kumpulan surat-surat tersebut diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht. Oleh Armijn Pane diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Pada masa itu, didengung-dengungkan bahwa buku tersebut merupakan master idea pemikiran seorang wanita pada zaman itu, tidak ada wanita lain yang memiliki pemikiran kritis dan maju seperti Kartini saat itu, tepatnya kalaupun ada, tidak ada yang berani mengungkapkannya seperti Kartini.

Jadi, sebelumnya nama Kartini belum dikenal luas sebelum terbit buku tersebut. Dan buku tersebut diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda, bukan dari pihak pribumi asli.

Beberapa sejarawan membantah klaim bahwa Kartini merupakan pelopor emansipasi wanita. Ada banyak wanita yang hidup sebelum zamannya dan pada zamannya yang juga berpikiran maju. Di antaranya adalah Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini sepertinya kurang dipublikasikan. Tapi apa yang mereka lakukan juga tak kalah oleh Kartini, atau mungkin bisa lebih, karena mereka langsung terjun ke lapangan dan mengimplementasikan pemikirannya secara nyatatanpa terlalu sibuk surat-menyurat, hehe.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910), berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972), selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), juga menjadi jurnalis di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Jika Kartini dikenalkan oleh J.H. Abendanon yang menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Tentunya juga banyak tulisannya yang diboikot oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Selain itu bukankah kita juga memiliki wanita-wanita hebat seperti Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dll yang hidup sebelum masa Kartini?

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang baru. Jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh pernah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sultanah dan panglima jelas bukan posisi yang mudahlaki-laki saja belum tentu mampu.

Yang muncul di benak saya adalah, kenapa saat itu pemerintah Hindia Belanda yang jelas bersikap anti terhadap perjuangan rakyat Indonesia mau menerbitkan buku kumpulan surat-surat Kartini? Ada apa sebenarnya dibalik motif tersebut? Ada apa dengan surat-surat dan pemikiran Kartini?

Pertanyaan itu akan membutuhkan jawaban yang panjang tentunya. Dan karena nantinya akan melebar kemana-mana dan membuat tulisan saya jadi tidak fokus lagi, saya biarkan saja pertanyaan di atas menggantung. 😀

Nah, kita kembali lagi ke lagu Ibu Kita Kartini tadi.

Tanpa bermaksud mengecilkan peran Kartini secara pemikiran dan personal. Saya berpikir, bahwa sesungguhnya yang harus kita resapi adalah intisari dari perjuangan para wanita-wanita hebat Indonesia tersebut. Bukan hanya berhenti di ikonnya saja dan pengkultusan secara ikonik. Esensi perjuangan emansipasi wanita Indonesia, itulah yang perlu kita pahami.

Mungkin di masa depan nanti saya tak akan mengajari anak saya lagu “Ibu kita Kartini” saat dia SD. Karena, untuk pemikiran seorang anak SD, saat dia menyanyikan lagu tersebut, tanpa disadari otak mereka mencerna liriknya sebagai sebuah “pemujaan ikonik” terhadap Kartini. Anggap saja saya berlebihan, tapi begitulah yang akan saya lakukan nanti 😀

Kenapa harus “Ibu kita Kartini”? Kenapa bukan “Ibu kita Cut Nyak Dien”? atau “Ibu kita Margaret Thatcher”? 😀

Lalu, tentang emansipasi wanita sendiri. Tiap kepala tentu memiliki pemahaman dan penerjemahan yang berbeda-beda tentang emansipasi wanita.

Tentu ada yang salah mengartikan, ada juga yang mengembangkannya, atau bahkan ada yang memodifikasinya.

Untuk pemahaman itu, saya kutip sebuah kalimat yang pernah diungkapkan oleh Rohana Kudus.

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus memperoleh pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.”

Saya secara personal setuju dengan apa yang diungkapkan Rohana Kudus tersebut. Emansipasi wanita itu bukan menempatkan wanita dan laki-laki di kelas yang sama. Sampai kapanpun wanita dan laki-laki akan berada di kelas yang berbeda, tapi bukan tingkatan tinggi dan rendahnya yang membedakan kelas tersebut, kelas tersebut sejajar, cuma berbeda ruang.

Yang diperlukan adalah kesadaran untuk menjalankan perannya masing-masing sesuai norma dan koridor yang ada di kelas masing-masing.

Salam hangat untuk para perempuan, dari para laki-laki 🙂

Berikut ini adalah link artikel yang berkaitan dengan tulisan saya di atas:

http://mustanir.net/index.php/daftar-artikel/52-mengapa-harus-kartini

http://mustanir.net/index.php/daftar-artikel/54-mitos-kartini-rekayasa-sejarah

________________________________________________________________________

Sumber Ilustrasi: http://www.lgos.org/events/index.php?page=event&event_id=872653

Iklan

8 pemikiran pada “Ibu Kita Kartini. Ibu kita? Ibu kamu? Ibu saya?

  1. Ada apa dibalik apa? pengikonan? konspirasi? jangan ragu bung kupas tuntas ^^

    • Ada banyak teori konspirasinya, salah satunya ada hubungannya dengan Snouck Hurgronje, salah satu penasihat pemerintahan hindia belanda saat itu. Tapi yg versi itu terlalu mengarah ke agama tertentu.
      Jadi, saya tak mau mengupas detailnya disini. Hehe

      Mungkin lain waktu kalau udah banyak referensi yang terkumpul baru saya berani nulis. Hehe

  2. Harusnya diintegrasikan saja ke hari ibu, biar gak banyak2 hari…
    #GagalPaham

    • Hahaha.
      Tapi kan maksudnya berbeda.
      Hari Ibu itu relasinya ke penghormatan terhadap kasih sayang Ibu.
      Kalau Hari Kartini, relasinya ke penghormatan perjuangan wanita di Indonesia.

      Karena udah terlanjur tersemat dengan kata Kartini, kaya’nya sekarang udah terlalu sulit untuk mengubahnya, hehe

      Yang penting pemahaman kita bukan di Kartini-nya, tapi ke arah perjuangan wanita di Indonesia-nya. 🙂

      • Tapi ibu kan juga perjuangan wanita, jadinya digabung saja. Hehe…
        Yupz, saya setuju, kartini itu hanya simbol (simbol salah kaprah) perjuangan wanita… Bukan soal kartini, tapi soal perjuangan hak wanita… 🙂

  3. saya setuju,.. 😀 Tuhan menciptakan perempuan dan lelaki sesuai peranannya masing2. Ibu Kartini juga pasti maksudnya supaya perempuan mempunyai hak yang sama dalam menempuh pendidikan seperti lelaki, bukannya emansipasi yang kebablasan.
    salam kenal.

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s