Logical Fallacy

logic

Logical Fallacy, arti harfiahnya adalah “Kekeliruan Logika”.

Hal ini sesungguhnya sering kali kita temukan dalam momen interaksi sosial sehari-hari. Jika kita termasuk seseorang yang sering berdiskusi, bertukar opini ataupun beradu argumen dengan seseorang, kita harus memperhatikan beberapa virus logical fallacy yang bisa saja menjangkiti kita. Jangan sampai virus ini menyerang otak kita, dan malah membuat opini dan argumen kita menjadi “bacot tanpa akal sehat”.

Biasanya virus itu datang di otak kita dikarenakan emosi yang tak terkendali, yang kadang menguasai kita jika pendapat orang lain bertentangan dengan pemikiran kita. Akhirnya berujung pada sebuah perdebatan yang tak sehat. Debat kusir. Yang hanya berlandaskan emosi belaka tanpa bertujuan untuk menemukan titik temu solusi dari permasalahan yang sedang dibicarakan. Kedua belah pihak yang berbeda pendapat sama-sama tak mau mengalah.

Menurut Weber & Brizee – 2011, berikut ini beberapa logical fallacy yang harus kita hindari dalam sebuah diskusi dan interaksi sosial :

1. Slippery Slope

Asumsi bahwa jika A terjadi, maka B, C, …, X, Y, Z pasti akan terjadi juga. Pada prinsipnya, menyamakan A dengan Z, sehingga jika Z tidak diinginkan, A juga tidak boleh terjadi.

Contoh : Di negara Belanda, ganja dan prostitusi dilegalkan. Maka kita juga boleh melegalkan ganja dan prostitusi di negara kita ini.

2. Hasty Generalization

Generalisasi spontanitas tanpa disertai bukti yang cukup.

Contoh :

– Di hari pertama aku berkunjung ke kota Bogor, cuaca sangat panas, tak ada hujan. Berarti Bogor memang kota yang panas!

– Pelaku Bom bunuh diri di Bali adalah orang Islam. Seluruh orang Islam teroris!

3. Post hoc ergo propter hoc

Pengambilan kesimpulan bahwa jika A terjadi setelah B, maka kejadian B adalah yang menyebabkan kejadian A. Tentunya tanpa disertai bukti yang nyata.

Contoh :

– Si Jono awalnya sakit flu, kemudian setelah meminum air minum yang telah diludahi oleh Ponari, besoknya Jono sembuh. Berarti ludah Ponari bisa menyembuhkan penyakit Jono!

– Dian Sastrowardoyo cantik sekali. Di sebuah iklan L’oreal, dia mengaku memakai produk L’oreal. Berarti produk L’oreal itu yang membuatnya cantik!

– Si Bejo semalam merokok dengan rokok Djarum. Pagi ini dia meninggal, diduga kena serangan jantung. Pasti rokok Djarum yang menyebabkan dia terkena serangan jantung!

4. Genetic Fallacy

Menjadikan karakteristik yang tidak relevan untuk menilai sesuatu.

Contoh :

– Volkswagen adalah mobil Iblis! Mobil itu produk asli Jerman, buatan anak buah Hitler!

( Info : Volkswagen awalnya didirikan pada tahun 1937 oleh serikat dagang Nazi, yaitu Serikat Buruh Jerman (Deutsche Arbeitsfront) )

– Aku memperoleh nilai D di mata kuliah Bahasa Pemrograman, jelas ini karena aku berzodiak Libra, sedangkan dosenku berzodiak Sagitarius. Kita tidak cocok!

5. Begging the Claim

Kesimpulan yang ditetapkan oleh klaim, tanpa disertai bukti nyata.

Contoh :

– Apapun yang terjadi, pertambangan batu bara harus dicekal karena menimbulkan polusi!

(Padahal bukti polusinya belum ditunjukkan)

– Apapun yang terjadi, Rhoma Irama tidak boleh jadi presiden!

(Padahal belum ada bukti nyata kegagalan Rhoma Irama bila menjadi presiden)

6. Circular Argument

Menyatakan ulang argumen. Argumen yang diputar-putarkan, tidak memberi keterangan tambahan atau solusi.

Contoh :

– Ian Antono adalah gitaris hebat, dia bermain gitar dengan bagus.

– Mario Teguh adalah motivator ulung, dia memberikan motivasi bijak.

(Tidak ada tolok ukur nyata kehebatan mereka, hanya pernyataan ulang argumen dengan kalimat yang berbeda)

7. Ad hominem

Serangan pribadi kepada lawan.

Contoh :

– Rizal tidak bisa menulis sastra, dia kan programmer!

– Rhoma Irama tidak akan bisa jadi presiden yang baik. Karena dia berpoligami.

(Menyerang personalitas lawan, padahal tidak ada hubungannya dengan argumen. Bertujuan untuk menjatuhkan mental dan kepercayaan diri lawan)

8. Ad populum

Ajakan emosional yang tidak relevan.

Contoh :

– Jika kamu memang asli penduduk Jakarta dan berdarah Betawi, kamu harus mendukung Fauzi Bowo menjadi gubernur Jakarta!

– Jika kamu memang lelaki sejati, kamu harus pernah nonton blue film!

9. Red herring

Pengalihan perhatian dari inti masalah.

Contoh :

– Tim nasional sepak bola Indonesia terancam dicekal dari kompetisi Internasional. Tapi, yang lebih penting lagi, siapa sebenarnya dalang utama kasus wisma atlet Hambalang?!

10. Straw Man

Terlalu menyederhanakan argumentasi lawan agar mudah dibantah.

Contoh :

– “Kamu terlalu berlebihan menyikapi ancaman FIFA untuk mencekal timnas sepak bola Indonesia, santai aja kali bro. Itu cuma gertak sambal.” kata seorang pengurus PSSI.

– “Kita kan cuma membagi uang sisa dari dana perjalanan studi banding ke Jerman, ini bukan korupsi namanya, kamu ga usah berlebihan, kamu kan masih mahasiswa dek,” ujar seorang Bapak anggota DPR.

11. Moral equivalence

Menyetarakan kesalahan kecil dengan kejahatan besar.

Contoh :

– Orang yang mencetak gol bunuh diri ke gawang timnya sendiri itu seperti seorang pengkhianat bangsa!

– Apa?! Kamu tidak memasang bendera merah putih di depan rumahmu saat tanggal 17 Agustus?! Kamu penjajah!! Bukan rakyat Indonesia!

– “Kamu menyebut batik adalah produk negaramu?! Kamu mencuri budaya kami!!” kata seorang Indonesia kepada seorang Malaysia. (Padahal di Malaysia juga ada seni membuat batik)

Semoga kita menjadi manusia yang berpikir cerdas dan tidak terjerumus dalam perdebatan yang penuh penyimpangan logika dan akal sehat seperti ”logical fallacy” di atas 😀

Sorry jika artikel ini mengandung beberapa “sebutan”, “public figure“, “merk”, “suku” dan “agama”. Ini hanya digunakan sebagai contoh belaka. Contoh dari tiap kasus di atas bukan sekadar karangan, karena memang terjadi di kehidupan nyata sekitar saya.

_________________________________________________________________________

Referensi : Weber R, Brizee A. Logical fallacies. http://owl.english.purdue.edu/owl/resource/659/03/

Sumber ilustrasi : KLIK

Iklan

7 pemikiran pada “Logical Fallacy

  1. Lalu, apa lagi “logical fallacy” yang terjadi di sekitarmu? 😀

  2. contoh yang nomor 3 sering banget tuh terjadi, #korbaniklan

  3. tp pendekatan slippery slop sering digunakan dlm metode deduksi penjabaran logika acak, entah apa istilahnya.

    • Wah, tentang pendekatan itu saya kurang tahu, mungkin nanti saya cari tahu dulu apa namanya. Hehe

      • Saat kasus A trjadi maka metode deduksi mengolah logika – logika acak dari sistematika penyusun motif B C D dst, walaupun sifatnya spekulatif tp korelasinya mmg bs terjadi.
        baca sherlock holmes 🙂

  4. sering ada logika yang dipaksakan oleh atasan saya. terkadang mau ditentang, tetapi ia bisa meyakinkan. akhirnya aku terima atas dasar pengalamannya yang lebih panjang. (tapi tetap mikir-mikir lagi)

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s