Sedikit “Plesetan” Dongeng Anak

illustration-bedtime-story

Beberapa waktu lalu, saya mampir ke gramedia dan melihat sebuah buku tentang dongeng-dongeng Indonesia. Mungkin jika saat itu saya masih SD, saya akan langsung merengek-rengek ingin membeli buku tersebut seperti yang sering saya lakukan pada orang tua saya di umur segitu. Tapi kali ini dengan kacamata berbeda, saya melihat buku kumpulan dongeng itu dengan beberapa pemikiran ganjil.

Saya lalu mencoba mengingat-ingat beberapa dongeng dan cerita rakyat Indonesia yang populer semasa saya kecil dulu. Ada beberapa hal di beberapa dongeng yang menimbulkan pertanyaan di benak saya.

“Apakah dongeng-dongeng yang sering kita dengar menjelang tidur dari orang tua kita adalah dongeng yang tepat dan mengajarkan moral yang benar?”

Seperti kata para sesepuh, sering sekali mereka berbicara bahwa sesungguhnya dongeng-dongeng tersebut mengandung pesan moral yang baik.

Tapi apakah benar?

Saya coba mendaftar beberapa dongeng/legenda/cerita rakyat di Indonesia yang sedikit mengganggu logika saya.

Yang saya tulis disini bukan cerita lengkapnya, tapi sedikit petikan kisahnya.

1. Jaka Tarub

Dongeng dari Jawa Barat ini berkisah tentang seseorang yang mengintip para bidadari mandi, kemudian mencuri selendangnya agar bidadari tersebut bisa dijadikan istrinya.

2. Kancil Si Pencuri Timun

Kancil adalah binatang yang cerdik, sering mengelabui Petani dengan akal bulusnya agar bisa mencuri timun di kebunnya.

3. Timun Mas

Dongeng tentang seorang suami istri yang memohon kepada Raksasa agar dikarunai seorang anak. Akhirnya Sang Raksasa mengabulkan, dengan syarat bila kelak anak itu dewasa, maka Sang Raksasa akan memintanya dijadikan tumbal untuk dimakan. Anak itu bernama Timun Mas.

4. Gunung Tangkuban Perahu

Seorang remaja lelaki yang hilang ingatan bernama Sangkuriang, kemudian jatuh cinta kepada Ibunya sendiri yaitu Dayang Sumbi. Dayang Sumbi sudah memperingatkan bahwa Sangkuriang itu anaknya. Tapi Sangkuriang tetap tidak percaya, dan tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau menjadi istrinya. Lalu Dayang Sumbi mengajukan syarat agar Sangkuriang membuatkan danau/lautan (saya lupa danau atau lautan) dalam semalam, yang akhirnya gagal. Kemudian Sangkuriang marah dan menendang perahu sehingga terbalik, dengan kesaktiannya jadilah perahu tersebut sebuah gunung.

Apakah hal-hal seperti di atas bisa dengan mudahnya diceritakan pada anak kita?

Tentunya cara pikir seorang dewasa dan seorang anak kecil berbeda. Anak kecil masih sering menelan mentah-mentah dongeng tersebut, tidak selalu bisa mencerna dengan baik moral apa yang sebenarnya disisipkan dalam kisah tersebut.

Jaka Tarub, secara tak langsung menjelaskan bahwa untuk memiliki sesuatu, kita harus melakukan segala cara. Tak perduli cara itu salah atau tidak. Seperti Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari agar bidadari mau menjadi istrinya.

Kancil, secara tak langsung menjelaskan pada anak-anak bahwa kita boleh saja menggunakan kecerdikan dan kepintaran kita untuk berbohong kepada orang lain, demi memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Seperti kancil dengan berbagai tipu dayanya mengelabui petani agar bisa mencuri timun.

Timun Mas, secara tak langsung menjelaskan bahwa, kita boleh memohon sesuatu selain kepada Tuhan. Dengan kata lain, syirik. Seperti orang tua Timun Mas yang memohon anak kepada Sang Raksasa sakti.

Gunung Tangkuban Perahu, secara tak langsung menjelaskan tentang hubungan “incest” seorang anak yang mencintai Ibunya sendiri.

Memang, jika kita cermati ending Timun Mas, kita sebenarnya bisa mengambil pesan moral bahwa jika kita meminta sesuatu kepada selain Tuhan, maka akibatnya akan buruk. Jadi jangan sekali-kali meminta sesuatu kepada selain Tuhan.

Lalu pada ending Jaka Tarub, jika kita memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak baik, maka sesuatu itu suatu saat akan hilang dari kita. Di ending cerita, sang bidadari menemukan lagi selendangnya, kemudian kembali ke khayangan dan pergi meninggalkan Jaka Tarub.

Tapi seorang anak kecil terkadang tidak benar-benar bisa mencerna intisari dari dongeng-dongeng tersebut~yang tampaknya sederhana padahal sesungguhnya rumit. Jadi, sesungguhnya dongeng-dongeng tersebut masuk dalam area PG (Parental Guidance). Tidak bisa diceritakan secara gamblang kepada anak kecil tanpa bimbingan yang tepat.

Beberapa dongeng luar negeri ada juga yang “ganjil” seperti dongeng-dongeng Indonesia di atas.

1. Cinderella

Seorang gadis remaja pergi ke pesta untuk menemui orang yang dia cintai, kemudian baru pulang tengah malam. Dia pergi ke pesta dengan kereta hias, gaun mewah dan sepatu kaca yang semuanya dia peroleh dari sihir seorang peri.

Tak perlu saya jelaskan lagi kan? Bagaimana jika cerita ini diterima secara gamblang oleh anak kecil?

Kita boleh menerima bantuan jin atau dukun untuk membuat kita terlihat seperti orang kaya, demi menarik hati orang yang kita cintai. Selain itu, dijelaskan bahwa seorang wanita sah-sah saja main ke tempat tinggal seorang lelaki yang dia cintai sampai larut tengah malam.

2. Snow white and 7 Dwarfs (Putri Salju dan 7 Kurcaci)

Seorang gadis, ditemukan tertidur di dalam rumah 7 kurcaci tanpa izin 7 kurcaci pemilik rumah tersebut. 7 kurcaci tersebut semuanya adalah laki-laki yang belum beristri. Kemudian dengan tenangnya sang putri yang masih perawan itu menjalani hidup di rumah itu bersama 7 kurcaci bujangan.

3. Red Riding Hood (Gadis Berkerudung Merah)

Seorang anak kecil berkerudung merah yang dibiarkan orang tuanya untuk berjalan-jalan sendirian di hutan demi mengantarkan makanan ke rumah neneknya.

4. Beauty and The Beast (Si Cantik dan Si Buruk Rupa)

Seorang ayah rela menyerahkan anak gadisnya demi melunasi hutangnya kepada seorang bangsawan kaya raya yang buruk rupa.

5. Aladin

Beberapa orang memperebutkan sebuah lampu wasiat yang berisi seorang Jin yang dapat mengabulkan 3 permintaan. Mereka percaya bahwa permintaan mereka dapat dikabulkan menjadi nyata oleh Jin tersebut. Mereka lebih percaya kepada Jin tersebut daripada kepada Tuhan.

Bagaimana jika seorang anak kecil mencerna dongeng-dongeng di atas secara tak sempurna. Bagaimana jika potongan kisah yang saya tulis di atas adalah fragmen yang tertangkap dan tersimpan di dalam memori masa kecil mereka?

Kita tentu tahu, ingatan masa kecil adalah ingatan yang paling vital dan sulit dihapus jika sudah terlanjur melekat. Itulah yang kadang menyebabkan adanya kasus phobia seseorang, biasanya saat dia kecil dulu pernah mengalami trauma terhadap sesuatu, sehingga terbawa sampai dewasa, meskipun setelah dewasa jika dipikir secara logika, ketakutan terhadap sesuatu tersebut tidaklah beralasan.

Dongeng-dongeng di atas tak sepenuhnya salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Oleh karena itu dibutuhkan orang tua yang cerdas dalam menceritakan dongeng-dongeng di atas agar anak kecil tak salah tangkap.

Dan ingat, jangan sampai tidak menceritakan sebuah dongeng secara tuntas dan lengkap sampai akhir cerita. Karena jika tidak, bisa-bisa hal-hal yang saya tulis di tiap dongeng di atas lah yang ditangkap oleh sang anak.

Sebagai epilog, saya tampilkan percakapan saya dan kawan saya tentang keganjilan beberapa dongeng di sebuah social network made in google satu tahun yang lalu.

 blog1

______________________

Illustration Sources : KLIK

Iklan

5 pemikiran pada “Sedikit “Plesetan” Dongeng Anak

  1. Adakah dongeng lain yang lebih ganjil dari dongeng-dongeng di atas?

  2. Ternyata ada juga yang sepemikiran dengan saya.

Jangan sungkan berpendapat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s