Liburan di Paruh Waktu: Kampung Budaya Sindang Barang

Bernapas di Paruh Waktu

Bernapas di Paruh Waktu

Setiap hari berhadapan dengan rutinitas kantor dan penatnya Jakarta membuat kami bertiga (Saya, Insan dan Su) rindu menghirup udara segar. Karena itu kami memutuskan untuk berlibur di paruh waktu, destinasi kami adalah Kampung Budaya Sindang Barang.

Kampung Budaya Sindang Barang terletak di Bogor, tepatnya di desa Pasir Eurih. Dari Jakarta bisa ditempuh dengan naik kereta ke Stasiun Bogor dan disambung dengan angkot.

Bukan hanya udara segar yang kami peroleh di sini, berbagai rupa budaya Sunda pun bisa kami pelajari. Di sini kami berjumpa dengan Pak Ukat Sukatma, sang tetua di kampung budaya Sindang Barang. Lewat Beliau kami mengetahui berbagai kisah dan sejarah di tanah Sunda. Mulai dari cerita kejayaan Raja Siliwangi, tragedi Perang Bubat antara Kerajaan Pakuan Galuh dan Majapahit, asal muasal berdirinya Kampung Sindang Barang, hingga ke suka duka Buruh Tani Indonesia di tanah pasundan pada masa Gestapu.

Berbincang dengan Pak Ukat

Berbincang dengan Pak Ukat

Kami juga belajar menumbuk padi dan seni memainkan lesung untuk perayaan tradisi Seren Taun. Tradisi Seren Taun adalah tradisi tahunan yang diadakan di Kampung Sindang Barang untuk mensyukuri hasil panen. Dalam perayaannya sering disajikan berbagai kesenian dan budaya Sunda, dari tari-tarian, seni beladiri, musik gamelan dan berbagai makanan khas sunda.

Baca lebih lanjut

Tahun 2016 dalam Playlist Saya.

Lama tak bicara musik, kali ini saya ingin berbagi opini mengenai album-album beberapa musisi Indonesia yang sering berputar di playlist saya selama 2016. Saya kerucutkan, album yang keluar di akhir 2015 sampai pertengahan 2016.

1. Taifun – Barasuara

Iga Massardi adalah kunci! Dia mengumpulkan beberapa musisi idealis, bersama-sama mereka mengangkat idealisme musik yang sudah lama didambakan Iga menjadi nyata. Dan tertumpah ruah ke dalam 9 deret lagu di album Taifun.

Jenius, Gila dan Membara! Sekiranya itu yang bisa saya utarakan untuk album ini.

Semua tembangnya saya favoritkan. Dari Nyala Suara yang penuh tekad bangkit melawan belenggu. Bahas Bahasa yang penuh pergolakan makna. Sendu Melagu yang meredam penyesalan. Hagia yang berdamai dengan perbedaan. Api dan Lentera yang bergerak untuk perubahan. Menunggang Badai yang melawan ragu. Tarintih yang berserah diri pada kasih “Ibu”. Mengunci Ingatan yang menolak lupa. Dan Taifun yang bijak dan meneduhkan.

2. Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti – Banda Neira

Rara Sekar dan Ananda Badudu menunjukkan kematangan musik mereka di album kedua ini. Sedihnya, ini adalah album perpisahan “sementara”. Karena setelah rilis album ini, Rara pergi melanjutkan studi ke New Zealand. Mereka bilang akan vakum sampai waktu yang ditentukan. Duh, sedih 😦

Sejak duo ini muncul pertama kali dengan album extended plugin/mentah mereka di soundcloud, saya sudah mem-favoritkan dan mengikuti kiprah mereka.

Keputusan menggaet beberapa musisi indie lain–yang jenius–untuk membantu penggarapan album kedua mereka adalah brilian! Ada Gardika Gigih Pradipta yang memukau dengan pianonya (saya juga mengikuti musiknya, dimana lagu-lagu gubahan dia itu Soundtrack-able banget!). Juga ada Layur, Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, Dwi Ari Ramlan, dan Leilani Hermiasih/Frau dalam daftar kontributor album kedua duo “nelangsa pop” ini.

Semua lagu di album ini favorit saya. Tapi kalau disuruh memilih yang paling berkesan, saya akan memilih “Sampai Jadi Debu” dan “Derai-derai Cemara”. Karena dua lagu itu bikin saya “mbrebes mili”. Gimana tidak?

Yang pertama adalah lagu persembahan untuk mendiang JS Badudu dan Istrinya, yang merupakan potret kalimat klise tapi magis “Cinta sampai di penghujung usia”.

Yang kedua adalah musikalisasi puisi Sang Penyair pendobrak kemapanan yang harus mengakui kekalahannya terhadap kehidupan. Chairil Anwar. Dimana di masa awal hidupnya dia berapi-api mengaku sebagai binatang jalang. Tapi di penghujung hidupnya harus terkapar di tempat tidur, melawan penyakit sifilisnya, dan berucap “hidup hanya menunda kekalahan”.

Baca lebih lanjut