IT. Sebuah Nostalgia Oldschool Horror.

Beberapa waktu lalu, teman kantor saya memutar trailer film horror “IT”. Saat itu, teman kantor saya yang lain, yang sudah berusia 35 tahun ke atas, lewat dan nyeletuk, “Eh ini kan film badut jaman dulu gue kecil, hii, takut banget gue dulu ama ini!!”

Saya termasuk generasi 90an yang tidak turut merasakan sensasi horror si Badut dari Neraka “Pennywise” yang menjadi ikon dalam film “IT”. Tapi dari kecil, saya selalu menyimpan pikiran yang janggal mengenai Badut. Bagaimana bisa sosok se-creepy itu menjadi ikon untuk menghibur anak-anak di pesta ulang tahun dan pesta-pesta menyenangkan lainnya? Sampai sekarang pun saya tak suka badut. Tapi untungnya tak sampai menderita¬†Coulrophobia–phobia pada Badut.

Baca lebih lanjut

Iklan

TINARIWEN dan Suara Mereka Mengenai Hidup

Beberapa waktu lalu, saya pernah datang ke acara seni yang diadakan oleh SAE Institute di Pejaten. Salah satu sesinya adalah talkshow bersama Iga Massardi, si pentolan Barasuara. Saya menyukai musik Barasuara, style bermain gitar Iga dan warna yang disajikan dalam musik mereka jarang saya temukan di musisi native Indonesia. Kurang lebih, saya menemukan sensasi yang mirip dalam musik mereka dengan band “Debu” yang tenar dengan lagu-lagu spiritualnya.

Di talkshow itu, Iga bilang, salah satu influence musik Barasuara adalah musisi-musisi Afrika. Saya menganggap ini hal yang menarik. Sepulangnya, saya langsung cek di youtube tentang musisi-musisi Afrika. Dan saya pun manggut-manggut kenapa musik Barasuara jadi seperti itu.

Tak berapa lama kemudian, teman saya memberi tautan lewat sosmed, sebuah video musik band dari Afrika. Kebetulan, teman saya ini juga menyukai musik Barasuara.

Band Afrika ini bernama Tinariwen. Sekali dengar musik mereka, saya langsung terpikat. Menariknya lagi, para personil band ini adalah orang-orang Tuareg, salah satu suku dari etnis asli Afrika yang hidupnya semi-nomaden, mereka berpindah-pindah, seringkali banyak ditemukan di Afrika bagian utara. Tinariwen menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Tamasheq, bahasa orang Tuareg.

Berikut ini salah satu lagu mereka, “Islegh Taghram Tifhamam”.

Selain musik mereka, saya juga mengagumi lirik-lirik mereka.

Baca lebih lanjut